Share

ITN 2013

Kasus Ospek ITN Malang yang diwarnai kekerasan seksual dan perlakuan tidak manusiawi, menggemparkan dunia maya. Pihak ITN (Institut Teknologi Nasional) Malang  telah membenarkan bahwa kejadian itu benar-benar nyata. Sementara, seorang mahasiswa yang identitasnya dirahasiakan, membeberkan tindakan para senior yang melewati batas.

Ospek ITN Malang tersebut, telah menelan korban, seorang Fikri Dolasmantya Surya. Ia meninggal ketika mwenjalani ospek di kawasan Pantai Goa China, Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan pada 13 Oktober lalu. Bola salju terus bergulir.

Tak cukup pihak kampus menjatuhkan sanksi kepada puluhan mahasiswa yang menjadi panitia ospek. Polres Malang berjanji akan memanggil pihak-pihak yang terlibat selama Kemah Bakti Desa (KBD) yang menyebabkan Fikri meninggal tersebut.

“Pihak panitia ospek, tim medis yang menangani Fikri serta para saksi-saksi. Itu yang akan dipanggil untuk dimintai keterangan dalam waktu dekat ini,” kata Kasat Reskrim Polres Malang AKP Aldy Sulaeman yang berharap ada bukti baru mengenai janggalnya kematian Fikri.

Sementara itu, seorang mahasiswa baru melalui Kompas, buka suara mengenai kejadian sebenarnya. Ia membenarkan terjadi perlakuan kasar para senior sepanjang Ospek ITN.

“Peserta diinjak-injak saat disuruh push-up. Lalu dipukul pakai sandal dan benda lainnya yang dipegang panitia. Ada teman lainnya yang disuruh berhubungan layaknya suami istri. Tetapi, antara sesama laki-laki. Bukan perempuan dan laki-laki,” jelasnya.

Ospek ITN

Tidak hanya itu, beberapa peserta ospek disiram air bawang. Mereka juga dupaksa meminum air laut sebanyak-banyaknya hingga kembung.

Tindakan tak patut panitia ospek ITN tidak berhenti di sana. Mahasiswa baru disuruh menyentuh tangan hingga telapak berwarna hitam. Barulah setelahnya diizinkan memakan nasi yang disiapkan.

Jika tangan semua peserta ospek belum hitam, mereka dipaksa renah ke tanah; untuk kemudian tangan tersebut diinjak-injak panitia hingga hitam. Peserta juga hanya diperbolehkan untuk minum air mineral 1 hingga 2 botol saja untuk satu angkatan.

Akan halnya kematian Fikri, diduga terjadi karena mahasiswa jurusan Planologi tersebut mengaku siap melindungi kawan-kawannya yang juga mendapatkan perlakuan kasar dari panitia.

“Fikri bilang siap melindungi teman-teman semua dari perlakuan para fendem (panitia/keamanan Ospek). Mungkin akibat pernyataan itu Fikri mengalami kekerasan yang berlebihan dari para fendem itu,” kata sang sumber kepada Kompas.

Lalu, bagaimana dengan kontrol dari dosen dan kampus sendiri? Izin memang sudah diturunkan. Namun, para dosen yang memantau lokasi, hanya datang siang hari. Alhasil, para senior yang menjadi panitia ospek mencuri waktu malam hari untuk melakukan kekerasan pada mahasiswa baru.