Share

Cabe-Cabean 1

Cabe-cabean. Istilah ini tengah menjadi tren belakangan. Bukan merujuk pada apa pun, melainkan pada ABG putri berusia sekitar 13-16 tahun yang sering nongkong di arena balapan liar; dan menjadi sasaran pelampiasan nafsu para pelaku balap liar tersebut. Bahkan, konon, dalam beberapa kasus, cabe-cabean ini dijadikan taruhan, layaknya piala bergilir.

Fenomena cabe-cabean sendiri, disinyalir makin marak dari hari ke hari. Remaja putri yang kurang mendapatkan perhatian orang tua, butuh pengakuan eksistensi diri, dan salah memilih kawan bergaul, bisa-bisa terjerembab dalam ‘dunia malam yang tak biasa’ ini.

“Itu perubahan perilaku. Suatu bentuk kefrustasian remaja perempuan. Artinya pengawasan orangtua lepas, tanggung jawab abai. Anak keluar sampai malam itu tindakan yang kurang pengawasan dari orang tua. Fungsi pengawasan lemah,” kata Aries Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) kepada detik.

Para ‘cabe’ tidak sekadar datang dan menikmati ajang balap liar. Tetapi, sebagai ‘gula pemanis’. Dalam penelusuran detik dan JPNN, disebutkan ada kalanya ‘cabe-cabean’ dijadikan sebagai taruhan layaknya piala bergilir. Dalam kasus tertentu, para pembalap liar membawa ‘cabe-cabean’ tersebut. Kemudian, sang pemenang berhak untuk memperoleh kepuasan seksual dari sang ‘cabe’.

KPAI (Komisi Perlindungan Anak) bukannya tidak tanggap. Melihat fenomena ‘cabe-cabean’ yang makin meresahkan, mereka mempertanyakan kembali program jam belajar masyarakat yang pernah didengungkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.

Bukan tanpa sebab. Rata-rata remaja putri yang menjadi ‘cabe’ ini adalah mereka yang duduk di bangku SMA atau SMK. Dengan mengoptimalkan jam belajar masyarakat, tentu diharapkan remaja, terutama remaja putri, tidak ‘memiliki kesempatan’ untuk bergabung ke komunitas yang sebenarnya merendahkan martabat mereka sendiri itu.

“Karena itu pemprov harus lebih maksimal dalam menerapkan jam wajib belajar supaya tidak ada siswa yang nongkrong tengah malam,” kata Ihsan, Ketua Satgas Perlindungan KPAI seperti dikutip JPNN.

Istilah ‘cabe-cabean’ sendiri, merupakan singkatan. ‘Cabe’ terbentuk dari frasa ‘cewek alay bisa di#w#k’.