Scroll to Top

5 Alasan Orang Berhenti Main FB

By Ibnu Azis / Published on Tuesday, 17 Dec 2013

Facebook

Ada banyak alasan mengapa orang berhenti main FB. Entah itu karena masalah pribadi, karena persoalan dengan orang lain, ketidaksengajaan, atau akibat faktor lain. Situs Mashable berikan lima alasan utama mengapa pengguna berhenti bermaian Facebook.

1. Terlalu ‘Bising’

Ya, FB dinilai terlalu ‘bising’, sesak, crowded, dan sejenisnya. Bukan hanya sekadar tampilan namun juga konten. Tengok pengalaman Tom Barefoot, mahasiswa berusia 23 asal AS terkait ‘kebisingan’ di Facebook.

Ia menilai Facebook terlalu sesak dan seakan tak ada yang benar-benar peduli pada dirinya. Ia miliki ratusan teman namun yang care padanya hanya 10 orang saja. Jalinan komunikasi yang ada terkesan useless dan tak ada manfaatnya sama sekali.

2. Khawatir ‘Rahasia’ Terkuak

Facebook beberapa waktu lalu telah mengubah kebijakan yang memungkinkan pengguna tak bisa lagi ‘bersembunyi’. Langkah ini cukup memberatkan sebab kemungkinan besar profil pengguna bisa dengan mudah ditemukan orang lain.

Albert Tackie (26) salah seorang pengguna FB mengaku tidak ingin mengambil resiko ini. Ia tinggalkan Facebook karena merasa sudah tak ‘bebas’ lagi. Terlebih, policy baru di atas cukup memberatkan bagi mereka yang sengaja ‘mengucilkan diri’ karena ingin menutupi sebuah rahasia.

3. Tak Ingin Terhubung

Visi dan misi Facebook adalah membuat internet lebih terbuka dan pengguna kian terhubung. Namun jika pengguna tak ingin terhubung dengan pengguna lain, apakah Facebook tetap memaksa visi dan misinya?

Katie Stopa (27) mahasiswa pascasarjana asal New York mengaku berhenti main FB karena terus dipaksa mempertahankan hubungan yang ia rasa tidak menguntungkan dirinya. Ia merujuk Facebook yang terkesan memaksa dirinya untuk terus berhubungan dengan mantan kekasih, mantan teman, atau sekadar kenalan, padahal ia tak ingin berhubungan dengan mereka.

4. Ada ‘Sesuatu’ yang Hilang

Anna (24) seorang jurnalis mengatakan jika ia kerap membandingkan kehidupan sosialnya di darat dan online (Facebook). Melihat ke belakang, sebelum mengenal FB ia selalu habiskan waktu bersama teman-teman hangout-nya.

Tatkala budaya Facebook mulai masuk, justru ini membuatnya cemas. Ada sesuatu yang hilang dan dijumpai di ‘tempat’ lain. Sebuah interaksi yang tidak dijumpai pada aktivitas sosial mana pun di internet.

5. Tak Konsisten

Memutuskan untuk berhenti main FB memang mudah. Namun apakah pengguna benar-benar lakukan hal tersebut? Umumnya terjadi krisis konsistensi. Di satu dua bulan berselang, aktivitas ini memang terhenti. Namun di bulan-bulan berikutnya, keinginan itu muncul kembali.

Rasa adiksi Facebook memang sukar untuk dihilangkan. Tatkala sudah terbiasa berkomentar, me-Like postingan, atau sekadar membaca status orang lain, aktivitas tersebut seakan sudah mendarah daging. Tatkala memencet tombol sign out, keinginan untuk login kembali cukup tinggi. Dan ini adalah salah satu bentuk inkonsistensi yang menyulitkan pengguna untuk berhenti bermain FB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda