Scroll to Top

Tahun Baru 2014 Jatuh Pada Rabu Wekasan, Pertanda Sial?

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 01 Jan 2014

Tahun Baru 2014

Malam tahun baru 2014 bertepatan dengan hari rabu terakhir dalam bulan Safar, atau yang disebut sebagai ‘Rabu Wekasan’. Konon, hari yang demikian akan mendatangkan malapetaka besar. Bahkan Rebo Wekasan yang pertanda sial, kemudian muncul dalam broadcast BBM. Benarkah demikian?

“Pada hari rabu tersebut Allah akan menurunkan beribu-ribu malapetaka (bala’) oleh sebab itu pada tahun ini diharapkan Untuk tidak ber lebih-lebihan dalam merayakan tahun baru masehi 2014 Karena setiap manusia tidak tau musibah apa yang akan diturunkan pada hari itu. SEBARKAN TEKS INI seikhlasnya ke KONTAK MU pada sebagian mukmin ALLAH”, demikian pesan yang tersebar di ruang publik.

Lalu, sebenarnya apakah Rabu Wekasan itu? Ia adalah hari Rabu terakhir yang terjadi pada bulan Safar, bulan kedua dalam kalender hijriyah. Kebetulan, sejak Jumat, 3 Januari 2014 mendatang, penanggalan hijriyah untuk tahun 1434  sudah sampai pada bulan ketiga, Rabiul Awal.

Masyarakat jahiliyah, termasuk bangsa Arab pra Islam beranggapan bahw abulan Safar adalah bulan kesialan. Pemahaman ini kemudian tersebar seiring penyebaran agama Islam ke berbagai tempat, termasuk ke Indonesia.

Nah, dalam keyakinan masyarakat Jawa kuno, dipahami bahwa pada Rabu terakhir bulan Safar akan terjadi sekian banyak musibah. Tokoh masyarakat di daerah Waru, Jawa Timur, H Umar Efendi seperti dikutip Merdeka, menyebut “setiap tahun akan turun 320.000 bala, musibah, ataupun bencana.”

Bahkan dalam perkembangannya, ada ritual-ritual tertentu yang diyakini mampu menolak bala alias mencegah datangnya bencana; mulai dari salat dengan jumlah rakaat tertentu, hingga bacaan beberapa surat pendek. Bahkan, ada pula yang mengutip hadits dhaif untuk membenarkan ritual dan kepercayaan tentang Rabu Wekasan.

Namun, perlu dipahami, Rasulullah saw. sudah bersabda, “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” (H.R.Imam al-Bukhari dan Muslim).

Sabda Nabi tersebut menegaskan bahwa berkeyakinan tentang hari sial dan seterusnya, bukanlah perilaku seorang muslim sejati, apa pun dalihnya. Hal ini diperkuat lagi dengan pandangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah yang ditampilkan dalam sebuah artikel khusus di situs resmi NU berikut.

“Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti bukan untuk ditinggalkan …, semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Pencipta …. Dan apa yang dikutip tentang hari-hari nestapa … adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali. Maka berhati-hatilah dari semua itu.”

Semoga kita terhindar dari perilaku syirik, baik yang disadari maupun yang tidak; baik yang dianggap salah atau yang dianggap benar oleh kebanyakan orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda