Scroll to Top

Barclays Premier League 2010-2011 Review

By Wan Faizal / Published on Saturday, 04 Jun 2011

What a season !!

Yah, saya rasa itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana persaingan di Liga Primer Inggris musim 2010-2011. Baik persaingan memperebutkan gelar juara, persaingan untuk tiket ke kompetisi Eropa, ataupun persaingan menghindari degradasi. Semua terjadi hingga detik akhir pertandingan musim ini. Kecuali untuk perebutan gelar juara, dimana Manchester United sebenarnya telah memastikan gelar mereka sejak pekan ke-36 setelah mengalahkan pesaing utama mereka, Chelsea. Sepasang gol dari Javier Hernandez dan Nemanja Vidic hanya mampu dibalas oleh Frank Lampard. Meski sebenarnya masih butuh satu poin lagi, hal itu tidaklah terlalu sulit karena sisa lawan yang mereka hadapi hanyalah Blackburn Rovers dan Blackpool. Dan benar saja, mereka mewujudkannya saat bermain imbang 1-1 melawan Blackburn di Ewood Park.

MU sendiri sebenarnya cukup beruntung dengan gelar yang mereka peroleh musim ini. Lihatlah permainan mereka yang tergolong biasa-biasa saja untuk tim yang masuk sebagai anggota The Big Four. Inti dari kekuatan mereka musim ini hanya terletak pada mentalitas juara dan kedalaman skuad yang dimiliki. Berkali-kali MU menghadapi situasi nyaris kalah. Tapi hasilnya? Mereka keluar sebagai pemenang. Lihat juga perbedaan kualitas yang tipis antara pemain inti dan cadangan mereka. Pemain-pemain muda mereka seperti Javier Hernandez, Chris Smalling, Jonny Evans, dan si kembar Rafael & Fabio selalu siap diturunkan ketika senior mereka absen. Bukan itu saja faktor-faktor yang membuat MU “beruntung” musim ini. Inkonsistensi performa dari para pesaing juga memuluskan langkah MU untuk menjadi kampiun.

Oke, yang pertama Chelsea. Di dua pertandingan awal musim, mereka tampil luar biasa dengan membantai West Bromwich dan Wigan dengan skor yang sama: 6-0!! Dua pertandingan, 12 gol. Hingga pertengahan November, skuad asuhan Carlo Ancelotti mampu meraih 28 poin dari 36 poin yang tersedia. Bencana baru datang pada 14 November 2010 kala mereka menjamu Sunderland di Stamford Bridge. Tak disangka, tiga gol dari Nedum Onuoha, Asamoah Gyan, dan Danny Welbeck tak mampu dibalas satupun oleh pemain Chelsea. Terhitung sejak saat itu mereka hanya mampu meraup 7 poin dari 27 poin yang tersedia. Mereka hanya mampu menang dari Bolton, bermain imbang melawan Newcastle, Everton, Tottenham, dan Aston Villa. Sedangkan Sunderland, Birmingham, Arsenal, dan Wolves berhasil mempermalukan Chelsea.

Kedua, Arsenal. Seperti sudah menjadi kebiasaan, tim ini hanya superior dari awal hingga pertengahan musim. Selepas itu, The Young Guns Arsenal seperti tidak kuat menanggung tekanan dari fans yang menginginkan Arsenal mengangkat sebuah trofi di akhir musim. Terbukti, hingga bulan Februari, Arsenal menjadi satu-satunya tim Inggris yang berpeluang meraih empat gelar juara sekaligus, yakni Premier League, Champions League, FA Cup, dan Carling Cup. Tapi semua malah hilang satu-persatu. Dimulai ketika mereka ditumbangkan Birmingham 2-1 di Final Carling Cup. Lalu Barcelona menyudahi perjuangan mereka di babak 16 besar Champions League dengan agregat 4-3. Kemudian MU menyingkirkan mereka dari perburuan FA Cup setelah menang 2-0 di babak keenam. Di Premier League, harapan mereka sempat kandas setelah tumbang 2-1 di markas Bolton di pekan ke-34. Namun sepekan kemudian mereka justru “hidup” lagi setelah mengalahkan MU lewat sebuah gol dari Aaron Ramsey. Well, it’s look like game on for them!! Tapi sekali lagi, mental pemain muda Arsenal seperti sangat lemah. Sepekan kemudian mereka malah resmi tersingkir dari perburuan gelar setelah takluk 3-1 dari tuan rumah Stoke City. Bahkan akhirnya Arsenal harus puas finis di posisi ke-4 setelah Aston Villa dan Fulham hanya mampu membuat Arsenal menambah satu poin di dua pertandingan sisa. Hmm…mereka benar-benar butuh pemain seperti Patrick Vieira dan Thierry Henry.

Bagaimana dengan Liverpool dan Manchester City? Saya rasa mereka sangat tidak siap untuk bersaing dalam title race musim ini. The Reds malah hanya mampu finis di posisi ke-7, dan gagal meraih tiket ke Eropa. Sementara Man.City masih lebih beruntung karena masih memperoleh tiket ke Champions League 2011-2012.

Persaingan yang paling seru justru ada di zona degradasi. Lima tim bersaing agar tidak menjadi pendamping West Ham yang sudah resmi terdegradasi. Lihat perolehan lima tim tersebut sebelum melakoni pekan terakhir: Blackburn (40 poin), Wolves (40), Birmingham (39), Blackpool (39), Wigan (39). Wow!! Itu berarti mereka harus menang di pertandingan terakhir.

Kita mulai dari “laga final” antara Wolves vs Blackburn. Wolves sebenarnya cukup beruntung karena bertindak sebagai tuan rumah di laga hidup-mati ini. Akan tetapi, hingga akhir babak pertama Blackburn malah unggul 0-3 lewat gol Jason Roberts, Brett Emerton, dan David Hoilett. A surprising result!! Di babak kedua anak asuh Mick McCarthy hanya mampu membalas lewat dua gol dari Jamie O’Hara dan Stephen Hunt. Fans tuan rumah seperti sudah pasrah tim kesayangan mereka bermain di Divisi Championship musim depan, sebelum sebuah gol dari Roman Pavlyuchenko di menit ke-94 berhasil membuat Tottenham mengalahkan Birmingham 2-1. Tawa untuk Wolves, tangis untuk Birmingham tentunya. Di pertandingan lain, Wigan mampu mengalahkan tuan rumah Stoke City 0-1 lewat gol dari Hugo Rodallega.

Sementara itu, Blackpool sangat tidak beruntung harus bertamu ke Old Trafford di laga penentuan seperti ini. Meski sudah memastikan gelar juara, tentunya MU tidak ingin mengakhiri musim dengan kekalahan, apalagi pertandingan berlangsung di hadapan suporter mereka. Sebelum pertandingan, manajer Blackpool, Ian Holloway, berjanji bahwa tim asuhannya akan bermain menyerang demi meraih kemenangan. Dan itu terbukti ketika mereka mampu unggul 1-2 lewat gol Charlie Adam dan Gary Taylor-Fletcher, setelah sebelumnya MU sempat unggul lewat gol Park Ji Sung. Akan tetapi, hanya sampai disitu sensasi yang diciptakan The Seasiders (julukan Blackpool). Berikutnya, MU mampu menambah tiga gol lewat Anderson, gol bunuh diri Ian Evatt, dan gol penutup dari Michael Owen. Meski terdegradasi, publik tetap menghargai permainan menyerang dan menghibur yang ditunjukkan Blackpool sepanjang musim. Dua pemain mereka, Charlie Adam dan DJ Campbell mendadak menjadi pemain terkenal berkat permainan atraktif yang dipakai Holloway.

Uniknya, meski musim depan bermain di kasta kedua, Birmingham dan Blackpool berhak memperoleh tiket ke Europa League 2011-2012. Hal itu bisa terjadi karena Birmingham menjadi juara di Carling Cup. Sementara Blackpool mendapat gelar tim paling Fair Play di Premier League 2010-2011.

Well, mari berharap musim depan akan lebih menarik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda