Scroll to Top

Samuel Eto’o, Zlatan Ibrahimovic, dan Bojan Krkic: Korban Skema False Nine Josep Guardiola

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 12 Oct 2011

False Nine Barcelona

Tugas para penyerang, mereka yang biasanya mengenakan nomor punggung 9, adalah mencetak gol. Namun, Josep Guardiola mengubah kebiasaan ini. Tengoklah mantan deretan penyerang Barcelona dalam rezimnya.

 

Penyerang Yang Mesti Mengalah

Thierry Henry sang pencetak gol tersubur bagi Arsenal. Zlatan Ibrahimovic yang kepala dan kakinya menakuti semua kiper Serie-A. Samuel Eto’o yang menjulang ketika bersama Real Mallorca. Terakhir, David Villa, top skorer timnas Spanyol sepanjang masa.

Namun, dari keempat penyerang kelas dunia tersebut, cuma Eto’o yang masih mampu menyuguhkan jumlah gol fantastis. Tiga penyerang lainnya mesti berkorban demi seorang bintang bernama Lionel Messi. Taktik ini kelak disebut sebagai “False Nine” (Nomor Sembilan Palsu).

Ya, dalam prinsip Guardiola, manfaatkanlah segala potensi yang dimiliki setiap pemain. Ia bukan pelatih pada umumnya yang memaksakan formasi kaku untuk anak buahnya. Atas alasan yang sama, Barcelona pernah turun dengan sembilan gelandang, satu bek, dan satu penyerang murni. Sergio Busquets dan Javier Mascherano mesti menjalani posisi sebagai bek tengah.

Keadaan ini mungkin bagus untuk tim. Bisa jadi pula baik bagi pemain yang lebih mementingkan kemenangan klubnya. Namun, jelas buruk bagi para pemain kelas dunia yang datang ke Camp Nou untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya.

Hal inilah yang sekarang merebak. Tiga korban formasi “False Nine” angkat suara.

 

Eto’o Menyerang Guardiola

Samuel Eto'o BarcelonaSamuel Eto’o, salah satu pahlawan Barcelona dalam final Liga Champions 2008/2009, konon tidak puas atas kebijakan Pep menomorsatukan Messi. Ketidakpuasan inilah yang membuat Guardiola rela membarter penyerang ini dengan Zlatan Ibrahimovic.

Eto’o yang nasibnya berakhir sebagai korban tukar guling Camp Nou, kini menjadi pemain bergaji termahal di dunia. Penyerang ini kini bermain untuk klub Rusia, Anzhi Makhachkala. Namun, sikap Guardiola yang menepikan Eto’o tak pernah dilupakan.

Eto’o berkomentar tentang “pembuangannya” sebagai berikut, “Saya telah mengecewakan banyak orang (fans Barcelona), kecuali (Joan) Laporta (mantan presiden Barcelona) dan (Josep) Guardiola.”

 

Frustrasi Ibracadabra

Zlatan Ibrahimovic BarcelonaZlatan Ibrahimovic yang menjadi pengganti Eto’o, tak kalah pedas mengkritik. Penyerang Swedia ini dahulu rela mengkhianati Juventus yang terdegradasi ke Serie-B untuk bergabung ke Internazionale Milan. Lalu, ketika Barcelona menjadi tolak ukur sepakbola dunia, Ibracadabra pindah ke Camp Nou untuk merebut trofi Liga Champions.

Namun, sang penyerang congkak tak mampu menerima pilihan False Nine. Ibrahimovic yang sebelumnya begitu subur, selama di Barcelona kehilangan hal tersebut. Lagi-lagi, karena jatah tersebut diberikan kepada manusia setengah dewa, Lionel Messi.

Ibrahimovic pun berkomentar miring tentang mantan bosnya. “Pep memang dianggap menciptakan standard permainan Barcelona. Namun, bagi saya, (tipe pelatih) pemenang sesungguhnya ada di dalam diri Jose Mourinho. Guardiola tidak sempurna.”

 

Curhat Bojan Krkic

Bojan Krkic BarcelonaTerakhir, Bojan Krkic yang dilego ke AS Roma awal musim ini, mengeluhkan hal serupa. Peran Bojan memang makin direduksi dengan kedatangan David Villa musim lalu.

Guardiola yang menganggap Bojan sebagai surplus, memberikan anak muda ini kepada Luis Enrique, mantan pelatih Barcelona junior yang kini menangani Roma.

Kalau pada awal perpisahannya Bojan bermulut manis dengan menyebut Guardiola sangat baik kepadanya, kini tidak. Belakangan, Bojan mengaku hubungannya dengan Pep tidak harmonis.

 

Semua demi Messi

Sebenarnya, ada beberapa korban False Nine yang tak berkomentar. Thierry Henry yang mengalami masa kemarau di Camp Nou, tidak menyalahkan Guardiola. Padahal, siapa yang tidak mengenal ketajamannya?

David Villa pun demikian. Musim lalu, ia menjadi korban paling spektakuler atas skema False Nine. Namun, hingga kini, Villa menikmati keadaan tersebut. Koleksi golnya pun menajam.

Pedro Rodriguez, sesama pemain binaan Barcelona seperti Bojan, juga tak mengeluh.

Masalahnya, tipe pemain seperti apa yang bergabung dengan skuad Pep. Yang merasa tim butuh bekerja untuknya, pasti akan kecewa dan angkat kopor. Yang berpikir sebaliknya, mesti menanggung risiko: dianggap mandul demi seorang Messi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda