Scroll to Top

Hector Cuper: Barcelona Adalah Tim Terbaik dalam 35 Tahun Terakhir

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 13 Oct 2011

Hector Cuper

Ada banyak cara untuk menghadapi sebuah klub besar. Misalnya, Pepe Mel. Pelatih Real Betis itu memilih cara provokatif untuk melawan klub yang tak kalah provokatif, Real Madrid.

Menjelang pekan ketujuh La Liga, Pepe Mel menyebut ia lebih suka menonton Scarlett Johansson daripada Cristiano Ronaldo. Seolah, Ronaldo cuma jago akting dan bergaya “banci” dalam setiap pertandingan. Maklum, Ronaldo sering terjatuh sendiri tanpa perlu disentuh pemain lawan.

Namun, menghadapi klub yang rendah hati, lain pula pendekatannya. Inilah yang dilakukan oleh Hector Cuper. Akhir pekan ini, pasukannya, Racing Santander, akan menghadapi Barcelona.

Alih-alih bersikap seperti Pepe Mel, Cuper malah memberikan reaksi positif. Baginya, tidak ada klub yang bisa menyetarai Barcelona dalam 35 karier kepelatihannya.

Cuper pasti belum lupa kejadian musim lalu. Kala itu, Barcelona melindas Santander dengan tiga gol tanpa balas di Camp Nou. Sekadar pengingat, berikut ini cuplikan gol-gol Barcelona.

 

Di Barcelona, Semua Pemain Bisa Menjadi Penyerang

Tentang gaya bermain Barcelona, Cuper berkomentar, “Saya yakin sekali tentang Barcelona. Sejak saya berada d dunia sepakbola, tidak ada yang seperti mereka. Mereka berada di puncak. Mereka adalah tim terbaik di dunia, jauh dibandingkan yang lain.”

Hector Cuper juga memuji strategi Barcelona untuk mengoptimalkan semua lini. Skema False Nine, yang mengorbankan para penyerang demi Lionel Messi, disebutnya tidak tertandingi.

“Mereka tim tanpa pesaing. Ketika penyerang berada di lini tengah, maka par bek menjadi striker paling berbahaya.”

Bahkan, Cuper juga menyatakan bingung menyetop salah satu saja dari pemain Barcelona.

“Katakan kepada saya. Sergio Busquets adalah bek atau gelandang? Lionel Messi itu pemain sayap, penyerang, gelandang, atau gelandang serang? Saya selalu berkata, kesempurnaan tidak pernah ada. Namun, Barcelona adalah tim yang paling mendekati hal itu.”

 

Pelatih Yang Tim Selalu Menjadi Runner-Up

Cuper pernah begitu dihormati pada awal dekade 2000-an. Kala itu, ia membawa Valencia menjadi runner-up Liga Champions dua tahun berturut-turut. Yaitu, pada musim 1999/2000 dan musim 2000/2001. Sayang, dalam dua kesempatan itu, Valencia selalu tumbang.

Karena cuma bisa membawa Valencia menjadi runner-up, Cuper disebut Mr. Runner-up.

Kemudian, Cuper pindah ke Internazionale Milan pada musim panas 2001. Di sinilah terjadi tragedi paling mengerikan dalam hidupnya. Ia sukses membawa Internazionale menguasai Serie-A musim itu. Tapi, di pertandingan terakhir, Internazionale kalah 4-2 dari tuan rumah Lazio.

Beralihlah scudetto ke tangan Juventus. Bianconeri menyalip Internazionale di pekan ke-34.

Sejak kegagalan itu, Cuper melatih beberapa klub kecil. Di antaranya, Mallorca, Real Betis, Parma, dan klub Yunani, Aris Thessaloniki. Ia juga sempat melatih timnas Georgia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda