Scroll to Top

Kisruh Liga Prima Indonesia: 14 Klub Siap Keluar, Kompetisi Bubar?

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 14 Oct 2011

Liga Prima Indonesia

Liga Prima Indonesia belum juga dimulai. Namun, sudah kisruh lebih dahulu. Liga yang merupakan kompetisi “gabungan” klub-klub Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Primer Indonesia (LPI) ini bahkan terancam menyusut pesertanya.

Dari 24 klub yang semestinya bergabung dengan Liga Prima, 14 menyatakan siap keluar. Bahkan, klub-klub tersebut siap menggelar kompetisi tandingan. Untuk kesekian kalinya, dunia sepakbola Indonesia memasuki masa-masa “kematian”.

 

Nurdin Lengser, Djohar Muncul

Awal tahun ini, semua insan sepakbola tanah air bersatu untuk menggulingkan rezim Nurdin Halid. Masih teringat dalam benak kita betapa getolnya pecinta si kulit bundar mendesak Nurdin Halid turun. Mulai dari demonstrasi hingga penerbitan buku 10 Dosa Besar ketua PSSI yang seolah tak tersentuh ini.

Nurdin akhirnya tumbang. Penggantinya adalah Djohar Arifin, mantan pesepakbola yang sebenarnya sempat tidak diunggulkan menduduki posisi ketua PSSI. Namun, berkat dukungan banyak pihak, terutama sang penggagas LPI, Arifin Panigoro, Djohar Arifin berhasil merengkuk posisi tertinggi tersebut.

Waktu yang singkat membuat kinerja PSSI pada masa Djohar Arifin cenderung dianggap negatif. Timnas mesti berlaga di Pra-Piala Dunia 2014. Timnas U-23 mempersiapkan Sea Games. Dan yang paling fatal, kompetisi sepakbola lokal tengah mengalami masa kacau-balau “gara-gara” sang pendukung saat kongres PSSI, Arifin Panigoro.

 

Kudeta Liga Primer

Ide AP untuk membentuk LPI dahulu dianggap segar. Dengan konsorsium yang memiliki “dana tak terbatas”, beberapa pemain gaek kelas dunia didatangkan. Lee Hendrie, Richard Knopper, dan sebagainya mewarnai kompetisi yang bisa dimasuki sebuah klub baru ketika sudah berjalan tersebut.

Namun, tengoklah apa yang terjadi dengan LPI pasca AP sudah berhasil menyarangkan kuku di PSSI. Liga ini terhenti dalam setengah putaran. Meskipun pada kenyataannya LPI memang harus dihentikan dan mesti melebur ke kompetisi legal di bawah naungan PSSI, ada tendensi buruk. Mungkin saja LPI cuma sebagai “sinyal” berkuasanya rezim baru di dunia sepakbola kita. Coba kita buka website resmi LPI yang sekarang sudah tidak ada lagi.

 

14 Klub Mogok

“Gara-gara” LPI pula kini 24 klub yang berada dalam kompetisi Liga Prima Indonesia terbelah sikapnya. 14 klub yang menolak Liga Prima, notabene berasal dari Liga Super sebagai kompetisi “resmi”.

Mereka adalah Persebaya Surabaya (versi Wisnu Wardana), Sriwijaya FC, Persipura, Persidafon, Persiwa, Persiba Balikpapan, Persela Lamongan, PSPS Pekanbaru, Pelita Jaya, Semen Padang FC, Deltras Sidoarjo, Persisam Samarinda, Mitra Kukar, serta Persib Bandung.

Kubu pertama berdalih, Liga Prima seolah dipaksakan dengan kehadiran klub-klub seperti PSM Makassar, Persebaya 1927, Persema, PSMS, Persibo, dan Bontang FC. Kebanyakan berasal dari LPI yang merupakan “liga gelap” meskipun 14 klub tersebut tidak pernah secara eksplisit menyatakan demikian.

Di samping “kekecewaan dicampur dengan klub yang tidak jelas”, 14 klub ini juga meminta PSSI konsekuen dengan statuta PSSI tentang jumlah peserta kompetisi.

Sebaliknya, 10 klub lain tetap ingin bertahan dengan Liga Prima Indonesia. Mereka adalah keenam klub di atas plus Persija Jakarta (versi Bambang Tjipto), Arema (versi M Nur Dito), Persiba Bantul yang juara Liga Utama, dan Persijap Jepara.

 

Kompetisi Tandingan

14 klub yang menentang Liga Prima, bahkan bersiap untuk menggelar kompetisi tandingan. Bahkan, direncanakan kompetisi tersebut siap bergulir pada 1 Desember.

14 klub tadi boleh-boleh saja beralasan ini dan itu. Namun, bukan tidak mungkin kekisruhan ini lebih dipicu oleh ketidakpuasan mereka terhadap (hanya) pembagian jatah saham Liga Prima Indonesia. Mengingat, klaim klub 14, PSSI meminta jatah 70%.

Mungkin pula, 14 klub ini tengah melakukan tes kepada AP. Apakah pengusaha kaya ini akan tetap berada di balik layar atas kekeruhan liga, atau melakukan manuver lain.

Yang jelas, PSSI mendapatkan dukungan penuh dari AFC.

Director of Competitions AFC Tokuaki Suzuki, menyatakan, syarat minimal kompetisi bergulir adalah adanya peserta minimal 10 klub. Kebetulan, jumlah yang sama dengan jumlah pendukung Liga Prima.

 

Perbedaan Kepentingan

Pada akhirnya, 14 klub yang menolak Liga Prima seperti mengulang sejarah dalam keadaan yang berlawanan. Awal tahun ini, klub-klub LSI yang membelot ke LPI milik AP dihukum oleh rezim Nurdin Halid. Kini, sebaliknya. Ketika PSSI menjadi milik AP, 14 klub bekas LSI tampaknya yang harus bersiap menerima hukuman.

Ujung-ujungnya, klub sepakbola kita seperti keluar dari mulut singa dan mendatangi mulut buaya. Bedanya, klub-klub yang keluar-masuk mulut “binatang buas” ini sama-sama liarnya.

One thought on “Kisruh Liga Prima Indonesia: 14 Klub Siap Keluar, Kompetisi Bubar?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda