Scroll to Top

Indonesian Premier League: Persib 1-1 Semen Padang

By Fitra Firdaus / Published on Saturday, 15 Oct 2011

Indonesian Premier League

Di tengah ancaman petinggi klub peserta Liga Prima Indonesia, kompetisi utama sepakbola negeri kita ini tetap digelar. Persib Bandung didapuk untuk menjadi tuan rumah pertandingan pembuka. Lawannya, Semen Padang, salah satu tim “kejutan” di Liga Super Indonesia musim lalu.

 

Agresivitas Semen Padang

Bemain tandang, Semen Padang justru tampil lebih efektif daripada Maung Bandung. Beberapa kali serangan balik Kabau Sirah mengancam gawang Persib yang dijaga oleh Jendri Pitoy.

Tendangan bebas Ellie Aiboy, tembakan Tommy Rifka dari luar kotak penalti, dan sepakan Esteban Viscarra yang berhasil diselamatkan Zulkifli Syukur adalah highlight sepanjang 45 menit awal. Penyelesaian akhir lini depan Kabau SIrah yang tidak maksimal membuat Persib mampu menahan Semen Padang 0-0 hingga babak pertama.

 

Diselamatkan Penalti

Awal babak kedua, tidak ada perubahan berarti. Persib masih mengandalkan umpan-umpan panjang ke kotak penalti lawan. Strategi ini sama sekali tidak efektif dan membuat Semen Padang mendominasi permainan.

Persib mesti kehilangan Zulkifli Syukur pada menit 68. Pemain timnas ini menerima kartu kuning kedua.

Melihat tuan rumah bermain 10 orang, Semen Padang memasukkan Mustofa Aji. Belum satu menit berlaga, ia melesakkan tembakan dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras ke sudut kanan gawang Jendri Pitoy. 0-1, Persib tertinggal.

Ketika kekalahan membayang di depan mata, Persib mendapatkan hadiah penalti. Miljan Radovic mengeksekusi dengan sempurna. Ditembakkannya bola ke sudut kanan atas gawang Syamsidar. Mantan penjaga gawang PSM itu tertipu telak.

Kedudukan 1-1 bertahan hingga peluit akhir dibunyikan. Bagi Semen Padang, raihan satu angka di awal kompetisi tentu hasil positif. Apalagi tim yang dicuri poinnya adalah Persib Bandung. Sementara, Persib yang diasuh Drago Mamic tidak cukup memuaskan harapan publik Bandung.

 

Menanti Kedewasaan Petinggi Klub

Kompetisi boleh saja sudah digelar. Beberapa pihak mungkin telah menghela napas lega. Namun, ada kekhawatiran tentang kelanjutan liga. Memang, Liga Prima tidak mungkin bernasib seperti LPI yang putus di tengah jalan. Mengingat, dahulu status LPI cuma liga “alternatif” yang dipakai Arifin Panigoro untuk mencapai posisinya saat ini: tokoh di balik layar ketua PSSI.

Namun, “ulah” para petingggi klub yang terus mengancam keberadaan Liga Prima jelas meresahkan. Mereka yang melulu mementingkan urusan perut mungkin layak mempertimbangkan nasib pemain. Setelah jeda panjang pertengahan lalu lalu, pesepakbola kita belum menemukan ajang sesungguhnya untuk menjajal kemampuan.

Di tengah antusiasme berlebihan terhadap timnas, termasuk khayalan untuk masuk Piala Dunia 2014 yang kini kandas, tentu tindakan mogok atau mengancam menggelar liga lain sangat tidak produktif. Bukankah antusiasme tersebut yang semestinya disulap menjadi penyemangat sepakbola tanah air?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda