Scroll to Top

Pengurus Terpecah Menjadi Dua Kubu, PT Persija Jaya “Resmi Dibubarkan”

By Fitra Firdaus / Published on Saturday, 22 Oct 2011

Persija

Jauh hari sebelum Nurhid Halid dicongkel dari posisi ketua umum PSSI, sepakbola Indonesia sudah menyukai adanya dua versi dalam sebuah peristiwa yang mestinya mutlak. Semisal, munculnya liga tandingan LPI yang akhirnya bernasib tidak jelas. Keberadaan liga yang tidak berada dalam naungan PSSI ini menjadi lawan dari ISL sebagai kompetisi “resmi”.

 

Kasus Pelatih Timnas

Kemudian, kasus beralih ke nasib Alfred Riedl. PSSI era Nurdin Halid yakin mengontraknya dengan surat resmi. Namun, versi PSSI baru, surat kontrak itu tidak ada di kantor PSSI, seolah PSSI lama tidak becus dalam masalah kearsipan.

Ada pula yang menyebutkan, kontrak Alfred Riedl ditandatangani dengan nama perseorangan, bukan nama PSSI, sehingga statusnya tidak sah. Maka, ditunjuklah Wim Rijsbergen, pelatih Belanda yang sebelumnya menangani PSM. Ada yang heran? PSM membelot dari ISL untuk Liga Primer Indonesia.

 

Dua Versi Kompetisi

Masalah kontrak pelatih timnas saja bisa memiliki dua versi. Apalagi dengan kompetisi 2011/2012 yang kini nasibnya entah bagaimana.
PSSI terus bertahan untuk memakai nama Indonesian Premier League atau Liga Prima Indonesia pada kompetisi mendatang.

Pesertanya adalah campuran klub IPL dan ISL. Klub ISL yang kastanya “lebih tinggi” meradang. 14 klub menolak bergabung dengan liga dan sepakat untuk membentuk kompetisi tandingan terbaru.

Bahkan, konyolnya, mereka mengaku PT Liga Indonesia masih hidup dan sah untuk memulai ISL versi mereka sendiri. Alasannya, PT tersebut belum dibubarkan. Padahal, versi PSSI, PT Liga Indonesia tentu sudah habis masanya ketika PT LPIS, badan kerja yang menangani Indonesian Premier League terbentuk.

Mana yang benar? Semua seperti berputar dalam labirin dan menyulut perpecahan demi perpecahan.

Awalnya, kubu yang berseberangan hanyalah klub yang setuju dan tidak setuju dengan Indonesian Premier League. Namun, lama-lama, klub yang tidak setuju IPL pun terpecah suaranya. Ada yang hendak melunak, dan ada pula yang tetap bersetia dengan pemboikotan.

 

Satu Klub Dua Kubu

Persija adalah kasus yang sedikit berbeda. Sejak awal, dalam klub juara Liga Indonesia VI ini sudah ada dua faksi. Yang pertama, mengaku sebagai pemegang saham PT Persija Jaya, mendaftarkan diri ke IPL. Yang kedua, tentu tak terima sikap tersebut.

Maka, demi menjaga kemungkinan nama PT Persija Jaya dipermainkan oknum-oknum tertentu, PT yang menaungi Persija tersebut dibubarkan. Pengurus “resmi” PT Persija Jaya pada Jumat kemarin melakukan serah terima saham kepada para pemilik; yang tidak lain adalah 30 klub amatir Perserikatan Sepakbola Indonesia Jakarta.

Saat ini, mungkin permasalahan seolah terselesaikan. Namun, bagaimana ke depannya? Dengan keputusan ini Persija (versi Benny Erwin) dipastikan menolak keberadaan IPL. Artinya, menolak kompetisi PSSI.

Sementara, Persija versi Bambang Sucipto yang memilih bergabung ke IPL, pastinya juga memilliki landasan hukum, “selemah apa pun kekuatan hukum” landasan tersebut. Artinya,  mungkinkah akan ada dua klub Persija musim depan? Satu berlaga di IPL, satunya di ISL yang diselenggarakan 1 Desember mendatang?

Kita bisa membandingkan, jika klub sebesar Persija saja terpecah, bukankah mungkin akan ada klub-klub lain bernasib sama? Meskipun sebuah khayalan belaka, bayangkan jika musim 2011/2012, ada Indonesian Premier League dan Indonesian Super League. Lalu, setidaknya ada 14 klub yang sama-sama bermain di dua kompetisi tersebut. Satu bernama klub versi A dan klub versi B. Mengerikan bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda