Scroll to Top

Persebaya Terpecah Dua Kubu, PSSI Optimis dengan Indonesian Premier League

By Fitra Firdaus / Published on Monday, 24 Oct 2011

Persebaya Liga Primer Indonesia

Setelah Persija yang sikapnya terbelah menghadapi kompetisi mendatang, kini giliran Persebaya yang bernasib serupa. Bajul Ijo berada dalam dilema untuk memilih mana liga yang akan mereka ikuti. Liga “resmi” bernama Indonesian Premier League, ataukah liga “liar yang resmi”, Indonesian Super League?

 

Sejak Awal Sudah Ada Dua Nama untuk “Satu” Klub

Pecahnya Persebaya menjadi dua kubu sebenarnya bukan hal baru. Pada musim 2010/2011, Bajul Ijo menjalani dua kompetisi sekaligus. Pertama, mereka tetap patuh dengan PSSI dengan mengikuti Divisi Utama (Liga T-Phone). Namun, keadaan berubah ketika Liga Primer Indonesia yang diembuskan Arifin Panigoro menyeruak.

Jaminan dana “tak terbatas” dari konsorsium, bisa merekrut pemain bintang yang sudah uzur, dan profesionalisme membawa Persebaya “luluh”. Mereka menyiapkan nama baru, Persebaya 1927, untuk berlaga di LPI, sementara di Divisi Utama, Persebaya yang “sebenarnya” tetap berlaga.

Dua nama untuk satu klub, meski pemainnya berbeda, adalah risiko. Apalagi ketika LPI dilebur dengan ISL dalam Indonesian Premier League.

 

Bergabung dalam Satu Liga

Masalahnya, Persebaya 1927 adalah juara paruh musim LPI –karena kompetisi berhenti pasca keberhasilan Arifin Panigoro menyusup ke PSSI—. Sementara, Persebaya yang “sesungguhnya”, musim depan tetap akan bergerilya di Divisi Utama. Mereka cuma berada di posisi 5 dalam klasemen akhir wilayah III musim lalu.

Status ganda Persebaya ini awalnya terselesaikan berkat sistem verifikasi yang dilakukan  demi Liga Prima Indonesia. Secara “kontroversial”, Persebaya lolos ke IPL tanpa berkaca pada klasemen akhir Divisi Utama musim lalu.

 

Lebih Baik di Divisi Utama?

Ketika mendapatkan jatah di IPL inilah konflik kembali mengemuka. Banyak yang berpendapat, lolosnya Persebaya ke IPL lebih karena hadiah PSSI, bukan karena prestasi. Maka, beberapa pihak menghendaki Persebaya tetap berlaga di Liga Indonesia. Ketua Exco PSSI bidang hukum, La Nyalla M. Mattalitti yang menyuarakan hal ini.

Jika dilihat dari kepentingannya, ucapan La Nyalla memang berbau politis. Ia sepertinya tengah mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan atau setidaknya memaksakan KLB untuk PSSI yang dipimpin Djohar Arifin.
Sementara itu, Cholid Goromah, CEO PT Persebaya Indonesia, tetap bersikukuh untuk tampil di IPL musim depan. Ia menegaskan bahwa Persebaya mengikuti jalur PSSI. Kompetisi ISL yang didengungkan akan dimulai 1 Desember mendatang, dianggap tidak ada.

Kalau dilihat dari segi “hukum”, ISL musim depan memang keluar dari naungan PSSI.

Mengingat perpecahan terjadi di berbagai klub, entah bagaimana kompetisi musim depan. Beberapa petinggi klub dan pengurus PSSI tampaknya tidak puas dengan pembagian jabatan atau mungkin kemenangan terselubung Arifin Panigoro di PSSI. Sampai tuntutan mereka dikabulkan, liga akan tetap tidak jelas.

 

PSSI Cuek

Sementara itu, Liga Prima Indoensia terlihat biasa-biasa saja meskipun terancam ditinggal banyak klub. Dalam situs resmi mereka, ligaprima indonesia.com, lebih sering ditampilkan berita-berita dari klub yang patuh pada IPL. Misalnya, PSM, Persibo, dan Arema. Sementara, berita-berita pahit tentang IPL, tidak pernah dimunculkan. Demi politik pencitraankah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda