Scroll to Top

Saling Bermaafan di Twitter, Konflik Cesc Fabregas-Frederic Kanoute Berakhir

By Fitra Firdaus / Published on Monday, 24 Oct 2011

Frederic Kanoute Cesc Fabregas

“My Name is Kanoute … and, I’m not a Terrorist.” Kira-kira demikianlah yang disampaikan Frederic Kanoute, penyerang gaek Sevilla ketika “menghajar” Cesc Fabregas di lapangan. Konon, aksinya ini disebabkan oleh sang gelandang flamboyan yang menjulukinya dengan kata-kata yang memanaskan telinga: teroris.

Cesc Fabregas, yang memiliki calon istri seorang Lebanon dan berkawan dengan empat hingga lima pemain muslim di Arsenal, menyangkal pernyataan Kanoute. Sementara, di Barcelona sendiri ada Eric Abidal dan Seydo Keita yang beragama sama dengan sesama mantan veteran Premier League itu.

Namun, kini semuanya berakhir. Keduanya sama-sama memilih bersikap sebagai pria dewasa. Cesc telah menghubungi Kanoute melalui telepon, berbicara baik-baik, dan menuliskan caranya berdamai di twitter demi menunjukkan itikad baik.

 

Adu Argumen di Twitter

16 jam lalu, dalam bahasa Inggris, Cesc menyampaikan keluhan terbuka. Dipaparkannya bahwa selama bertahun-tahun dalam dunia sepakbola, ia selalu berhubungan baik dengan semua rekan dari berbagai latar belakang, ras, agama, dan negara. Belum pernah ada yang pernah menuduhnya rasis. Intinya, Fabregas menyatakan, ia sangat sadar tidak melakukan sedikit pun hal salah.

[blackbirdpie id=”128150914455449600″]

Dalam titik ini, Cesc juga secara tersirat mengira, tuduhan Kanoute bahwa ia menyebut “teroris”, tak lebih sebagai bentuk kekecewaan atas hadiah penalti kepada Barcelona pada menit terakhir.

Dua jam kemudian, keadaan berubah. Dalam bahasa Spanyol, Cesc menyatakan perdamaian dan kini tidak ada pembicaraan lain kecuali sepakbola.

[blackbirdpie id=”128184985109794816″]

[blackbirdpie id=”128185259773788160″]

Sebaliknya, Kanoute pun demikian. Ia menulis, “dua orang dewasa (Cess dan dirinya) telah menyadari kesalahan kami kemarin. (Semuanya) sudah berakhir.”

[blackbirdpie id=”128186226934165505″]

 

Contoh Buruk dari Kanoute, Bukan Fabregas

Kanoute boleh-boleh saja menuding bahwa Fabregas memprovokasinya. Namun, kenyataan di lapangan bisa dikatakan sebaliknya. Kanoute menerima kartu kuning pertama ketika menggeser dengan sengaja bola yang sudah diletakkan Lionel Messi.

Provokasi Kanoute ini berhasil. Setelah pemain yang sangat “islami” ini keluar karena menghajar Cesc, bola tembakan Messi dibendung dengan baik oleh Javi Varas. Sevilla selamat dari kekalahan.

http://www.youtube.com/watch?v=O9tQLFtoPZM

 

Mesti Konsisten Bersikap

Tindakan menggeser bola oleh seorang pemain berusia 35 tahun, yang menentang invasi curang dan terkutuk Israel ke Palestina, ibarat seorang pemain muslim yang tak konsisten. Ia hanya peduli ketika dirinya teraniaya, tapi tak mau mengakui kesalahan ketika “menganiaya” orang lain. Sepakbola mungkin hanya permainan.

Mengganggu pemain lawan dengan mengutak-atik bola boleh saja dianggap sebagai trik. Namun, jika hal itu dilakukan oleh seorang pemain yang mengaku taat beragama, dan tak mau dianggap teroris, bukankah cukup memalukan pula?

Apa pun itu, konfrontasi Cesc Fabregas dan Frederic Kanoute sudah selesai. Kanoute menyelesaikan misi agar klubnya mendapatkan satu angka. Sementara, Fabregas pun berhasil menunjukkan itikad baik untuk meminta maaf terlebih dahulu. Rasisme mungkin menjijikkan. Kata-kata kasar tentang agama jelas keterlaluan. Namun, segala sikap yang memungkinkan kata-kata tadi keluar, semestinya juga harus ditinggalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda