Scroll to Top

Pele: Lionel Messi Pemain Yang Kurang Sempurna

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 28 Oct 2011

Pele

Apa yang ada dalam pikiran seseorang yang sekian lama menyandang gelar pesepakbola terkenal di dunia? Ia berusaha mempertahankan gelar itu bahkan ketika sudah gantung sepatu sekian lama. Ketika ada bibit muda tumbuh dan mengancam reputasi, mungkin orang tersebut akan melancarkan serangan kata-kata cukup keras.

Itulah Pele. Pesepakbola yang mencetak lebih dari 1000 gol dalam kariernya ini tampaknya begitu sensitif ketika mendengar nama Lionel Messi. Beberapa waktu lalu, Pele berencana mengirimkan video dokumenternya kepada anak kecil asal Argentina ini. Kala itu, Pele “menjawab” ucapan Messi yang mengaku belum pernah melihat aksi Pele di lapangan hijau.

Kini, kata-kata yang lain keluar dari peraih tiga gelar Piala Dunia ini. Pele menyebut Messi sebagai pemain yang kurang sempurna. Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-71, ia ditanyai. Seandainya Pele masih bermain, siapa pemain sepakbola modern yang paling ingin diajaknya berlaga satu tim dengannya.

Dengan sedikit agresif, Pele menjawab, “Saya tertarik untuk bermain dengan Lionel Messi. Namun, Messi adalah pemain yang kurang sempurna karena ia tidak bisa menanduk bola. Saya juga sudah bermain 20 tahun sedangkan Messi beberapa tahun saja.”

Pele benar dalam satu hal, dan salah dalam hal lain. Messi memang pendek. Ia bahkan sempat nyaris gagal bermain sepakbola karena pertumbuhan tubuhnya yang mini.

Namun, mencetak gol dengan kepala bukan hal tabu. Semua orang masih mengingat final Liga Champions 2008/2009. Kala itu, Messi yang tingginya cuma 169 cm mampu menaklukkan kiper Manchester United, Edwin Van Der Sar. Bukan dengan kakinya seperti yang biasa terjadi, melainkan dengan kepala.

http://www.youtube.com/watch?v=0RC7KbVaj1U&feature=related

Di sisi lain, Pele benar tentang pentingnya konsisten bermain dalam performa terbaik. 20 tahun berlaga, lebih dari 1000 gol dijaringkan, dan berandil besar bagi timnas Brazil. Ia memiliki bukti konkret itu.

Sebaliknya, Lionel Messi belum. Di tingkat internasional, Messi masih belum membawa Argentina ke level seperti yang dilakukannya untuk Barcelona. Namun, cuma itulah kegagalan Messi selama ini. Di tengah himpitan sepakbola modern yang pragmatis, Messi adalah perkecualian.

Semua pelatih cenderung hanya ingin menang, mereduksi permainan indah, dan lebih suka timnya mencetak 1 gol di menit pertama plus bertahan dalam 89 menit terakhir. Jose Mourinho dan Alex Ferguson, meski tidak mutlak, memiliki kecenderungan tersebut dan klub yang mereka tangani cukup berhasil.

Tapi, pemain seperti Lionel Messi membuat sepakbola modern menjadi berwarna. Ketika hasil begitu dipentingkan, ia dan Barcelona —seperti halnya Arsenal di Liga Inggris— muncul sebagi antitesis sepakbola pragmatis.

Bukti sahih terjadi di Camp Nou pekan lalu. Cuma bisa bermain 0-0 dengan Sevilla, Barcelona tetap mendapatkan standing ovation dari para pendukung yang melihat perjuangan keras mereka sepanjang 98 menit.

Di dunia sepakbola ketika gol bisa direncanakan, tackle kotor diperbolehkan, dan permainan indah dianggap membuang peluang, Lionel Messi memberikan pelangi. Pele dengan kehebatannya, melakukan hal serupa pada masa lalu. Hanya, dalam konteks keadaan yang cukup berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda