Scroll to Top

Di Balik Hak Siar 130 Miliar untuk Indonesian Super League: Skenario “Penggembosan” IPL?

By Fitra Firdaus / Published on Sunday, 30 Oct 2011

Persaingan sepakbola Indonesia tidak hanya milik Indonesian Super League dan Indonesian Premier League. Bukan pula hanya masalah “bekas” anak asuh Nurdin Halid dengan raksasa baru bernama Arifin Panigoro.

Bukan juga, perseteruan antara dua klub dengan nama sama. Misalnya, Persija dan Persebaya yang terbelah dua. Melainkan juga, televisi.

Indonesian Premier League

Ya, sejak timnas Indonesia digila-gilai rakyat Indonesia, ada upaya baru dari televisi. Lupakan sinetron yang dipasang pada jam-jam emas demi menyerap perhatian keluarga Indonesia. Ada yang lebih menarik: tayangan liga.

Dahulu, siapa yang mau menyentuh Liga Super Indonesia? ANTV dalam beberapa tahun seperti memiliki hak milik abadi. Harga hak jual siarannya pun cukup mengenaskan, cuma 10 milyar dalam satu musim kompetisi.

Namun kini keadaan berubah. MNC Group dengan tiga stasiun televisinya menyerbu dan menguasai Liga Prima Indonesia. Mereka dikontrak selama 4 tahun dengan angka fantastis.

Klub-klub yang tidak mau bergabung ke dalam IPL, tetap mempertahankan ISL. Mereka bergabung dengan PT. LI (PT Liga Indonesia) yang selama ini menangani ISL.

Walaupun menurut PSSI, PT LI sudah dibubarkan, bagi klub dan PT LI, pengurus ISL ini masih hidup. Mereka masih layak untuk melanjutkan kompetisi, termasuk musim 2011/2012.

Nah, sebagai kompetisi “tandingan”, Liga Super Indonesia tidak mau kalah dari IPL. Musm ini, hak siar IPL mencapai 100 miliar permusim.

Maka, LSI menjual hak siar mereka ke ANTV seharga 130 miliar atau lebih unggul 30 miliar. Agak aneh memang, bagaimana mungkin hanya dalam jarak semusim, angka hak siar bisa melesat 1300% (awalnya cuma 10 miliar).

Pikiran buruk kita akan berprasangka, ini cuma akal-akalan ANTV dan LSI agar penonton tidak sepenuhnya pergi ke Indonesian Premier League yang menjadi milik PSSI.

Namun, konon, lonjakan kontrak hingga 1300% disebabkan ketidakpuasan ANTV karena PSSI seenaknya saja memutus perjanjian hak siar dengan televisi swasta tersebut. ANTV dan PSSI, sebelum ada Liga Prima Indonesia, masih menyisakan kontrak hingga enam musim.

Menarik diikuti, bagaimana akhirnya stasiun televisi ramai-ramai melirik liga domestik kita yang sering dicap penuh kekerasan, kebrutalan suporter, keberpihakan wasit, dan kental aroma pengaturan skornya. Ternyata, liga yang dicerca oleh semua pihak ini, juga sangat laku dijual dengan kontrak fantastis. Lalu, mengapa hal ini baru terjadi musim ini?

One thought on “Di Balik Hak Siar 130 Miliar untuk Indonesian Super League: Skenario “Penggembosan” IPL?”

  1. Mank luculah Indonesia nech,,,,,
    Dgn spt ne, masing2 kek_a cri keuntungan, bkn keutuhan persepakbolaan Indonesia.
    Dimanakah gerangan pihak2 yg berwenang dalam penertiban hal2 ne,,,??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda