Scroll to Top

Review Liga Spanyol: Kejatuhan Levante dan Kekuatan Klub “Tradisional”

By Fitra Firdaus / Published on Monday, 07 Nov 2011

Cristiano Ronaldo

Bobot, bibit, bebet. Demikian yang sering diminta oleh keluarga ketika seseorang menikah. Demikian pula di Primera Division.

Tidak cukup sebuah klub memiliki bobot pemain-pemain matang. Tak cukup pula bergantung pada sekadar konsistensi permainan.

Ada kalanya, permainan apik tak berbuah poin. Ada satu hal penting, tradisi juara. Levante tak memilikinya. Mereka sementara tersingkir untuk meminang gelar juara La Liga dan bukan tidak mungkin seterusnya demikian.

Levante pernah memuncaki klasemen La Liga. Mereka juga mencatatkan sebagai salah satu klub tersukses dalam 9 pertandingan awal Primera Division. Sang Katak memeroleh 23 poin, hasil dari 7 kali menang dan dua kali seri. Rekor ini cuma bisa dilewati Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid.

Apa yang terjadi dalam dua pekan terakhir cukup menyakitkan. Levante dipecundangi Osasuna 2-0. Akhir pekan ini, giliran Valencia yang membuyarkan mimpi dengan memenangi laga 0-2.

Levante 0-2 Valencia

Dalam Derby Valencia, gol bunuh diri Javi Venta dan Alberto Costa menggiring Levante terjun ke posisi empat. Sebaliknya, Kelelawar, julukan Valencia, berubah menjadi vampir yang menghisap darah Katak Levante.

Lagi-lagi, dua gol yang bersarang ke gawang Gustavo Munua berasal dari kecerobohan lini belakang. Lagi-lagi pula, keterlambatan para penyerang untuk mencetak gol, membuat peluang meraih tiga angka berubah menjadi tangan hampa.

Dua pertandingan, dua kekalahan, terbobol 4 gol, dan tak mampu mengoyak gawang lawan. PR besar untuk Juan Ignacio Martinez dan pasukannya yang terlanjur bermimpi tinggi. Pasukan tuanya ternyata belum cukup mampu mengarungi kompetisi panjang. Butuh mental juara untuk mengatasi kegugupan tak kunjung mencetak gol. Butuh tradisi kuat untuk menang bahkan dengan hasil minimal.

Valencia, sebagai klub dengan tradisi apik, setidaknya sejak dekade 2000-an, sekaligus rival dalam Derby Valencia, mengajarkan hal tersebut. Klub ini sempat limbung beberapa saat. Namun, El Che bisa mendapatkan angka kala permainan mereka begitu kuyu.

Hasilnya,lima pertandingan terakhir, El Che selalu menang. 4 di liga domestik dan satu di Liga Champions.

Tradisi pula yang membuat Real Madrid dan Barcelona lolos dari keadaan pucat pasi. Madrid pernah terganjal Levante 1-0 dan ditahan seri Racing Santander. Namun, mereka mampu memperbaiki keadaan dengan mencatat tujuh kemenangan beruntun di Liga.

Total, sejak 24 September 2011, Madrid menang 10 kali dalam dua kompetisi. Terakhir, mereka mencukur Osasuna 7-1.

Barcelona pun demikian. Meskipun terakhir ditahan imbang Athletic Bilbao 2-2, secara keseluruhan, pasukan Pep Guardiola tetap menjanjikan. Mereka adalah satu-satunya tim di Liga Spanyol yang belum kalah di semua kompetisi.

Ketika kompetisi digulirkan dengan 38 pertandingan, tidak semua hal bisa terjadi sesuai rencana. Di sinilah tradisi juara bisa sangat berpengaruh. Mengangkat klub yang memilikinya, dan membunuh klub “kecil” tanpa ampun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda