Scroll to Top

Sandro Rosell: Primera Division Harus Diikuti 16 Klub Saja

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 08 Nov 2011

Sandro Rossel

Awal musim ini, Liga Spanyol berjalan tak biasa. Pekan pertama ditunda karena ada perselisihan antara asosiasi pemain dan pihak liga (LFP). Para pemain yang melihat klub-klub mereka dibanjiri utang, meminta jaminan akan tetap dibayar seandainya tempat mereka bernaung bangkrut.

Liga Spanyol (dan Liga Italia) memang berbeda dari Liga Inggris dari masalah “ketertiban ekonomi”. Di Inggris, klub kecil sekalipun, mesti benar-benar menjaga sumber pencaharian klubnya dan didukung banyak sponsor. Di La Liga, sehebat apa pun klub berjuang, nama mereka akan ditelan oleh dua gurita bernama Real Madrid dan Barcelona.

Sandro Rosell, presiden Barcelona, mengamati hal ini dari sudut pandang lain. Jika jumlah peserta Primera Division dikurangi, akan ada peluang bagi klub-klub “menjual diri” lebih baik.

Katanya, “Solusi jangka pendek adalah mengurangi jumlah klub di Liga. Awalnya, dari 20 tim menjadi 18. Kemudian, dari 18 dari 16. Jika Anda mengurangi jumlah tim, Anda pasti meningkatkan kompetisi. Pasti akan banyak pemain bintang dalam jumlah tim yang lebih sedikit.”

Di sisi lain, jika usulan Sandro Rosell ini mau didengar LFP, setidaknya para pemain tidak akan bermain bagaikan robot. Klub minimal berlaga dalam 40 laga musim ini (plus di Copa del Rey).

Seandainya mereka lolos di semua kompetisi, maka angka itu akan semakin besar. 60 pertandingan!  Jika klub mampu tampil di Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antar Klub, angka ini akan bertambah lagi menjadi 65 laga.

Jadwal ini belum lagi ditambah pertandingan internasional. Memang, tidak akan ada pemain yang bisa berlaga dalam semua pertandingan tersebut. Namun, para pemain kunci dipastikan akan mudah cedera, mengalami kebosanan, dan menerima tragedi buruk lain.

Ironisnya, keadaan ini tidak akan digubris para pebisnis. Semakin banyak pertandingan, semakin banyak uang yang didapatkan.
Selain masalah pengurangan jumlah klub Primera Division, Rosell juga membicarakan hal lain.

Musim ini beberapa pertandingan La Liga digelar pada pukul 12.00 waktu setempat. Hal ini semata demi pasar Asia. Real Madrid melakoninya pada pekan lalu saat mencukur Osasuna 7-1.  Barcelona dipastikan mengalami takdir serupa.

Rosell pun menjawab, “Kami tidak bermain siang hari kecuali dipaksa. Sebagai presiden Barcelona, seandainya keputusan (menggelar laga jam 12.00) ada di tangan saya, hal ni tidak terjadi. Sudah kebiasaan kami untuk makan bersama keluarga, baru berlaga di lapangan. Namun, kami adalah klub demokratis Jika LFP ingin kami bermain siang hari, itu yang akan terjadi.”

Masalahnya serupa dengan liga kita. Seberapa jauh pebisnis, klub, dan pengelola liga memanusiakan para pemain sepakbola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda