Scroll to Top

Ternyata, Tempat Lahir Soekarno Bukan Di Kota Blitar

By Andhika / Published on Saturday, 11 Jun 2011

Ada sebuah fakta menarik yang baru diungkap tentang tempat kelahiran Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno. Mendiang pemimpin revolusi tersebut ternyata tidak lahir di Blitar seperti yang diajarkan selama ini di sekolah-sekolah, namun lahir di Kota Pahlawan, Surabaya.

Dikutip dari id.custom.yahoo.com, Ketua umum ‘Soekarno Institute’, Peter A Rohi mengatakan, “Setelah kami lakukan penelitian dan melalui kajian cukup lama, ternyata rumah kelahiran Soekarno bukan di Blitar, melainkan di Surabaya”, ujarnya.

“Kami sudah melalui kajian dan penelitian panjang sejak masa reformasi. Bahkan penelitian juga kami lakukan di Belanda. Buku-buku sejarah masa lalu juga membuktikan bahwa di Surabaya inilah Bung Karno dilahirkan. Syukurlah sekarang bisa diresmikan,” ujarnya lebih lanjut.

Untuk melengkapi referensi temuannya tersebut, Peter A Rohi menunjukkan koleksi buku-buku sejarah yang menuliskan kelahiran Soekarno. Beberapa judulnya adalah,
“Soekarno Bapak Indonesia Merdeka” karya Bob Hering,
“Ayah Bunda Bung Karno” karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto tahun 2002
“Kamus Politik” karangan Adinda dan Usman Burhan tahun 1950.
“Ensiklopedia Indonesia” tahun 1955,
“Ensiklopedia Indonesia” tahun 1985,
“Im Yang Tjoe” tahun 1933 yang sudah ditulis kembali oleh Peter A Rohi dengan judul “Soekarno Sebagi Manoesia” pada tahun 2008.

“Bahkan mantan Kepala Perpustakaan Blitar sudah mengakui bahwa Soekarno tidak dilahirkan di Blitar, melainkan di Surabaya,” tuturnya. Pihaknya berharap, ke depan masyarakat Indonesia lebih mengetahui dan mengakui bahwa kota kelahiran Soekarno yang selama ini dikenal adalah keliru.

Rumah tersebut terletak di Jalan Lawang Seketeng yang saat ini menjadi Jalan Pandean IV/40. Bangunan tersebut berukuran 6×14 meter yang terdiri dari 1 ruang tamu, 1 ruang tengah, 2 kamar dan 1 dapur. Ada juga bagian atas bangunan yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian.

Pemilik bangunan saat ini adalah Siti Djamilah. Beliau menempati bangunan tersebut sejak 1990 bersama dengan sang kakak dan suami, H. Zaenal Arifin. Menurut Bu Djamilah, sejak menempati rumah tersebut yang bersangkutan tidak pernah merubah atau merenovasi bangunan, sehingga tetap dibiarkan apa adanya.

Selanjutnya, di rumah tersebut akan dipasang prasasti untuk penanda bahwa ada seorang tokoh besar Indonesia yang lahir disitu.

“Di Jakarta ada prasasti Barack Obama, padahal dia Presiden Amerika Serikat. Masak Presiden Indonesia tidak ada prasastinya? Kami memasangnya di rumah kelahiran Soekarno,” tambah Peter A. Rohi.

Prasasti tersebut ditandangani oleh Walikota Surabaya sebelumnya, Bambang DH pada tahun 2010. Karena pada saat itu Walikota Surabaya telah mengetahui tentang penemuan ini dan telah berkirim surat kepada pemerintah pusat bersamaan dengan pembuatan prasastinya. Pemasangan prasasti telah dilakukan pada 6 Juni 2011 (disesuaikan dengan tanggal kelahiran Soekarno, 6 Juni 1901) oleh Walikota Surabaya saat ini, Tri Rismaharini. Ibu Risma sekaligus menandatangani prasasti tempat Soekarno pernah bersekolah di Surabaya.

 

(sumber; http://id.custom.yahoo.com/paling-indonesia/tradisi-unik-artikel/article-menelusuri-jejak-rumah-kelahiran-bung-karno-315, foto credit; detik.com)

Komentar Anda