Scroll to Top

Awal Abad XXI: Zaman Jebolan Akademi La Masia

By Fitra Firdaus / Published on Saturday, 12 Nov 2011

La Masia 2

32 tahun berlalu sejak Josep Lluis Nunez, presiden Barcelona, mendirikan akademi La Masia di bangunan tua yang sudah ada sejak 1702. Terinspirasi ide Johann Cruyff, Nunez yang bermimpi mendapatkan pemain-pemain brilian kini boleh tersenyum puas.

Lelaki yang pada pertengahan tahun ini sempat hendak dijebloskan ke penjara selama enam tahun, bisa menyaksikan sekian produk La Masia bertebaran. Tidak hanya di Barcelona, tetapi juga di klub-klub elite dunia.

Memang, semua membutuhkan waktu. Demikian pula akademi La Masia. Setelah menanti sekitar 10 tahun, bibit-bibit muda hasil tempaan La Masia mulai terlihat pada awal 1990-an.

Sebutlah Pep Guardiola dan Guillermo Amor. Mereka bisa dibilang sebagai generasi awal La Masia yang paling sukses. Amor menjadi salah satu pemain yang berlaga paling banyak di liga. Sementara, Pep, menjadi panutan semua generasi La Masia setelahnya. Mulai dari Xavi Hernandez hingga Thiago Alcantara.

La Masia

Lalu, pada dekade 2000-an, meledaklah La Masia ke seluruh dunia. Nama-nama seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Victor Valdes, dan Carles Puyol menjadi agresor pertama akademi ini. Mikel Arteta dan Pepe Reina yang sempat merasakan tempaan tempat yang dalam bahasa Indonesia disebut “Rumah Petani” juga bisa menjadi contoh lain.

Agresi berlanjut dengan generasi 1987 Barcelona: Lionel Messi, Cesc Fabregas, dan Gerard Pique. Nama pertama bahkan berpeluang menjadi pemain terbaik dunia tiga tahun berturut-turut.

Selepas Messi dkk. masih ada deretan nama lain seperti Bojan Krkic (kelahiran 1990), Oriol Romeu (kelahiran 1991), Thiago Alcantara (kelahiran 1991), hingga Isaac Cuenca (kelahiran 1991).

Pengguna produk La Masia pun tidak hanya berkutat Barcelona semata. Tiga dari empat big four Liga Inggris, merasakan kualitas anak-anak yang disepuh seorang lelaki tua bernama Oriol Tort. Ada nama Pique (pernah di Manchester United), Fabregas (pernah di Arsenal), dan Romeu (kini di Chelsea).

Sudah lebih dari 50 nama tenar melejit dari akademi ini. Dan, hingga kini tidak ada tanda-tanda La Masia akan surut pemain anyar. Keberanian Guardiola memakai lebih dari 20 nama jebolan akademi ini hanya dalam 3 tahun menjadi bukti. Boleh dikatakan, awal abad XXI adalah zamannya anak-anak rumah petani ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda