Scroll to Top

Udinese, Tetap Garang Tanpa Bintang

By Wan Faizal / Published on Sunday, 13 Nov 2011

Lihatlah klasemen sementara Serie-A 2011-2012 musim ini. Bukan nama besar seperti AC Milan, Inter Milan, Juventus, maupun AS Roma yang bercokol di puncak klasemen, melainkan Udinese.

Performa Udinese musim ini, setidaknya hingga pekan ke-11, memang cukup istimewa. Diprediksi akan goyah karena ditinggal banyak bintangnya, seperti Alexis Sanchez, Gokhan Inler, Cristian Zapata, dan German Denis, Il Zebrette justru mampu melejit di papan atas.

Meski harus diakui posisi yang diraih Udinese saat ini sedikit berbau keberuntungan karena Juventus masih menyisakan satu laga melawan Napoli yang tertunda.

Lantas, apa saja faktor yang membuat Udinese begitu perkasa musim ini? Mari kita analisis satu persatu.

1.       Antonio Di Natale

“Di Natale sangat penting bagi kami karena dia adalah pemain yang bisa membongkar pertahanan lawan dengan skill dan kecepatannya.”

Sebuah kalimat dari pelatih Udinese, Francesco Guidolin, terhadap pemainnya, Antonio Di Natale. Kalimat tersebut sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana peran pemain berusia 34 tahun itu bagi Udinese.

Faktanya bisa dilihat di musim ini. Sejauh ini Toto (sapaan akrab Di Natale) telah mencetak 10 gol dalam 12 penampilannya di berbagai ajang bagi Udinese. Ketika Toto mencetak gol, Udinese dipastikan selalu meraih angka. Pengecualian terjadi saat Udinese kalah 1-2 dari Arsenal di play-off Liga Champions. Saat itu Toto mencetak satu-satunya gol Udinese.

Musim lalu lebih ganas. Total Toto mencetak 28 gol di Serie-A yang membuat ia meraih predikat sebagai capocannonieri alias pencetak gol terbanyak, serta meloloskan Udinese ke Liga Champions sebelum dikandaskan Arsenal. Bisa dibilang, selama Toto masih bermain, keran gol Udinese dijamin akan lancar.

“Toto adalah seorang juara dan pribadi yang hebat. Saya yakin ia akan menjadi protagonis hingga berusia 40 tahun,” tambah Guidolin.

2.       Francesco Guidolin

Permainan sebuah tim tidak akan maksimal jika tidak memiliki pelatih yang hebat pula. Beruntung Udinese punya pelatih sekelas Francesco Guidolin.

Meski terhitung bukan pelatih papan atas Italia layaknya Fabio Capello, Giovanni Trappatoni, atau Cesare Prandelli, namun Guidolin tetap punya magis tersendiri untuk Udinese.

Pelatih kelahiran 3 Oktober 1955 itu baru membesut Udinese pada musim 2010-2011 kemarin. Dan di musim pertamanya itu ia mampu membawa Udinese duduk di peringkat empat klasemen akhir setelah pada musim 2009-2010 nyaris terdegradasi karena finish di urutan 15.

Guidolin dikenal sebagai pelatih yang mampu memaksimalkan potensi pemain muda yang ia miliki. Dan itulah yang ia tunjukkan di Udinese. Lihat lah bagaimana pemain seperti Alexis Sanchez yang membuat Barcelona kepincut untuk merekrutnya.

3.       Gairah dan semangat pemain muda

Kepergian pemain bintang seperti Sanchez, Inler, Zapata, dan Denis tidak diimbangi dengan mendatangkan pemain bintang lainnya. Manajemen Udinese justru merekrut pemain muda berharga murah untuk menggantikan peran mereka.

Sebelum musim ini bergulir pernah mendengar nama Gabriel Torje, Abdoul Sissoko, Diego Fabbrini, Danilo Larangera, Neuton Piccoli, atau Emmanuel Badu?

Tapi kini, lihatlah mereka. Mereka mampu menjadi kunci sukses Udinese sejauh ini. Permainan mereka belum banyak diketahui oleh lawan-lawan di Serie-A.

Selain itu, para pemain muda tersebut pastinya ingin seperti Sanchez. Bermain apik di Udinese dan membuat klub top Eropa melirik mereka. Bisa dibilang, Udinese adalah batu loncatan mereka untuk kemudian berlabuh di klub top Eropa.

4.       Pemain pelapis

Sebuah tim tentu tidak bisa mengandalkan 11 pemain yang itu-itu saja. Diperlukan para pemain pelapis dengan kualitas setara pemain inti untuk sewaktu-waktu menggantikan para pemain utama.

Beruntung Udinese memiliki hal itu. Ambil contoh di lini depan. Ketika Di Natale tidak bisa bermain, mereka masih memiliki Fabbrini, Antonio Floro Flores, atau Paulo Vitor Barreto.

Di lini tengah, Giampiero Pinzi, Kwadwo Asamoah, atau Mauricio Isla memiliki pelapis sepadan dalam diri Badu, Sissoko, Abdi, dan Torje.

Lini belakang idem, Udinese tidak kekurangan pemain handal sebagai pelapis. Bahkan Danilo, pemain yang baru didatangkan awal musim ini dari Palmeiras mampu menjadi pemain inti menyingkirkan pemain lawas seperti Damiano Feronetti dan Giovanni Pasquale. Sementara Samir Handanovic di pos kiper memiliki pelapis seperti Daniele Padelli dan Emanuele Belardi.

5.       Lini pertahanan

“Untuk menjadi tim yang bisa meraih prestasi, dibutuhkan pertahanan terbaik, bukan penyerangan terbaik.” Begitulah kata-kata vice president AC Milan, Adriano Galliani.

Meski pernyataan itu tidak ditujukan untuk Udinese, namun Udinese menerapkan hal itu. Faktanya, Udinese sejauh ini baru kebobolan empat gol saja, terbaik diantara kontestan Serie-A lainnya. Peringkat kedua diisi Juventus dan Napoli yang sama-sama kebobolan tujuh gol.

Bandingkan dengan sisi serang. Udinese baru mengoleksi 13 gol saja. Catatan itu masih sedikit lebih baik dari Novara yang mampu mencetak 12 gol. Padahal, Novara berada di posisi 19 klasemen sementara.

Kuatnya lini pertahanan Udinese tentu tidak bisa dilepaskan dari peran para defender dan kiper. Kiper Samir Handanovic dan trio bek seperti Danilo, Mehdi Benatia, dan Maurizio Domizzi, serta dibantu dua wing-back, Mauricio Isla dan Pablo Armero, adalah jawaban mengapa lini pertahanan Udinese begitu kokoh.

So, ready for scudetto race, Il Zebrette?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda