Scroll to Top

Lionel Messi, Alfredo Di Stefano, dan Gianfranco Zola: Bintang Yang Selalu Sial di Timnas

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 15 Nov 2011

Lionel Messi Argentina

Banyak yang berpendapat, Lionel Messi tidak bisa disebut sebagai pemain terbaik dunia. Pasalnya, bermain luar biasa di tingkat klub, Messiah lebih sering sial ketika berkostum Argentina.

Messi tidak perlu khawatir. Tidak hanya dirinya yang tampil di bawah form terbaik saat dipanggil timnas. Banyak pemain kaliber dunia yang bernasib sama.

Alfredo di StefanoSebagai contoh, ada nama Alfredo Di Stefano. Legenda Real Madrid ini begitu digdaya di tingkat klub. Ia membawa Los Blancos menjuarai Lia Champions lima kali berturut-turut.

Namun, di tingkat negara, Di Stefano bahkan lebih buruk daripada Messi. Kalau pemain Barcelona bisa bermain di Piala Dunia, Di Stefano cuma bisa menggigit jari.

Padahal, Di Stefano sampai perlu berganti negara hingga tiga kali. Pertama ia bermain untuk Argentina, kemudian Kolombia, dan terakhir Spanyol.

Bersama dua negara pertama, ia memang sial. Untuk Spanyol, Di Stefano lebih mengenaskan lagi.

Ia sukses membantu La Furia Roja menembus putaran final Piala Dunia 1962. Namun, cedera membuat Di Stefano yang tak muda lagi hanya bisa bermimpi memegang trofi paling membanggakan di dunia sepakbola.

Kasus yang sama juga menimpa Gianfranco Zola. Semua penggemar Liga Inggris akan berkata, ia adalah salah satu pemain paling bertalenta di Premier League. Badannya pun mini seperti halnya Messi.

Zola meraih scudetto bersama Napoli, Piala UEFA bersama Parma, dan sederetan gelar bersama Chelsea. Namun, tuah magis pemain yang mengenakan nomor 25 di Chelsea ini tidak berlanjut di timnas Italia.

Di Piala Dunia 1994, debut dan penampilan terakhirnya di turnamen ini, Zola mendapatkan kartu merah. Ironisnya, hal itu terjadi di laga pertamanya di Brazil.

Menghadapi Nigeria, Zola hanya beberapa menit di lapangan. Pelanggarannya kepada Agustine Eguavoen membuat ia harus keluar lapangan dan kehilangan posisi di timnas.

Di Euro 1996, Zola sempat tampil cemerlang di pertandingan pertama menghadapi Rusia. Duetnya dengan Pierluigi Cashiragi sangat merepotkan pertahanan lawan. Namun, di pertandingan terakhir grup, kembali nasib sial menghantui.

Zola gagal mengeksekusi penalti saat melawan Jerman. Skor berakhir 0-0 dan Italia mesti mengangkat kopor sangat dini, tak lolos ke perempat final.

Kedua pemain di atas bisa dikatakan memiliki segalanya di tingkat klub, tapi gagal di timnas. Salah satu faktor adalah umur yang terlalu tak mendukung. Di Stefano memulai debut di timnas Spanyol, timnas terakhirnya, pada usia 31 tahun. Sementara, Zola banyak bermain di timnas Italia ketika usianya sudah 29 tahun.

Messi bisa dikatakan lebih baik dari dua senior bernasib buruk. Usianya masih 24 tahun. Masih ada tahun-tahun berikutnya untuk menunjukkan kapasitas sebenarnya. Namun, apa boleh buat. Sejauh ini, Messi bergabung dalam grup pemain yang menjadi kunci di tingkat klub, tapi tak maksimal bermain untuk negaranya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda