Scroll to Top

PSSI Dituntut Menggelar KLB Oleh 21 Pengurus Provinsi

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 17 Nov 2011

PSSIKemarin Rabu, 16 November 2011, sebuah pertemuan “terlarang” digelar oleh 34 klub dan 21 Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI.

Disebut terlarang, karena pertemuan tersebut dapat dikatakan sangat rancu. Awalnya, pertemuan ini dirancang untuk Diskusi Permasalahan Sepakbola Nasional.

Namun, ketika acara dimulai, judul pun berubah menjadi “Kick Off Divisi Utama”. Di sinilah PT Liga Indonesia memamerkan kekuatan dan kesiapan mereka menggelar kompetisi.

Termasuk, janji memberikan subsidi 500 juta kepada klub yang mengikuti kompetisi Divisi Utama versi utama.

Belum cukup, masih ada ujung yang paling luar biasa. Di akhir perbincangan, ketika malam melarut, ada pembacaan surat dari 21 Pengprov yang hadir. Mereka menyatakan keinginan agar PSSI menyusun persiapan KLB (Kongres Luar Biasa).

21 Pengprov ini mempercayakan masalah KLB kepada empat anggota Exco PSSI, La Nyalla Mahmud Mattalitti, Tonny Apriliani, Erwin Dwi Budiawan dan Roberto Rouw.

Sudah bukan barang rahasia lagi bahwa La Nyalla adalah tokoh yang paling sering mengucapkan KLB sebelum pertemuan Rabu malam. Tentu dengan bahasa yang “malu-malu kucing”.

Lebih heboh lagi ketika ada anjuran agar klub-klub memboikot workshop PSSI. Workshop ini sendiri akan dilangsungkan pada Jumat, 18 November 2011. Anjuran ini malah diamini oleh PT Liga Indonesia. Komisaris PT Liga, Harbiansyah, mengaku bahwa PT Liga siap memberi support dan memfasilitasi upaya ini.

Harbiansyah sendiri adalah petinggi Persisam Putra Samarinda. Sejak awal, ia memang terkesan tidak menyukai PSSI yang dianggap sering melakukan offside, melanggar statuta. Oleh beberapa pihak yang memandangnya negatif, Harbiansyah diduga hanya tidak puas karena “tidak mendapatkan jabatan semestinya” sekaligus mengejar posisi penting di PT Liga Indonesia.

Pertemuan Rabu malam bukannya tanpa interupsi. Banyak klub yang menyela dengan meragukan legalitas PT Liga. Plus, kompetisi yang berada di bawah naungan mereka. Klub-klub yang hadir tampaknya tak cukup tolol untuk tidak khawatir akan terkena sanksi PSSI.

Menanggapi hal ini, La Nyalla kembali memberikan argumentasi. Menurutnya, semua sifatnya legal. Yang ilegal adalah yang dilakukan PSSI. Mengingat, PSSI membuat hal-hal di luar statuta. Termasuk, memasukkan beberapa klub ke Liga Prima Indonesia tanpa perlu memakai jalur promosi-degradasi.

Kita lihat saja, sampai kapan drama konyol sepakbola Indonesia berlanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda