Scroll to Top

2011/2012, Musim Terbaik Xavi Hernandez

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 25 Nov 2011

Xavi Hernandez

Bisa apa Lionel Messi tanpa Xavi Hernandez? Sang penyerang nomor satu dinilai kurang trengginas jika Xavi tak ada untuk memberi suplay bola.

Sebaliknya, bisa apa Xavi tanpa Messi? Jawabannya, gelar Piala Dunia 2010 dan kerja sebagai napas tim yang tak pernah putus.

Xavi sang jenderal lapangan, baru saja menjadi sorotan dalam laga melawan AC Milan di San Siro. Meskipun Lionel Messi menjadi man of the match, Xavi juga berperan sentral dalam tiga gol Barcelona.

Xavilah yang “memaksa” gol bunuh diri Mark Van Bommel. Ia pula yang dijatuhkan oleh Alberto Aquilani. Terakhir, ia bagaikan penyerang berdarah dingin ketika menuntaskan umpan Lionel Messi.

Xavi beroperasi dalam jarak lebih dari 7 mil sepanjang laga tersebut. Satu golnya, menambah perbendaharaan gol musim ini menjadi 5 biji.

Padahal, Xavi baru dipentaskan Pep Guardiola dalam 19 partai. Ujung-ujungnya, jika sang jenderal terus bermain seperti saat melawan AC Milan, ia akan memecahkan rekor gol pribadinya dalam semusim.

Pencapaian terbaik Xavi dari segi gol terjadi pada musim 2007/2008 dan 2008/2009. Dalam masing-masing musim tadi, Xavi mampu mengemas 10 gol.

Musim 2007/2008, torehan 10 gol itu dibuat dalam 51 laga. Sementara, musim berikutnya, gol yang sama dibuat dalam 49 pertandingan.

Artinya, Xavi sudah setengah langkah menyamai pencapaian tersebut, dengan jumlah pertandingan yang lebih sedikit.
Mengenai kesuksesannya, Xavi menyebutkan hal ini berkat kontribusi si anak hilang, Cesc Fabregas.

Pep Guardiola secara jitu memprogramkan duo gelandang ini dengan sempurna di lini tengah. Fabregas bisa bergantian dengan Xavi dalam mengatur irama Barcelona. Fabregas bahkan bisa pula menjadi penyerang ketika lini depan Barcelona membutuhkan bantuan.

Sang Puppet Master, demikian julukan Xavi, kini memang tengah berada dalam masa jaya. Kemampuannya dalam mencari celah kosong, membagi bola, dan mengatur tempo, jauh berada di atas rata-rata.

Xavi sendiri mengaku perjalanannya bukan hal mudah. Ia pernah mengalami masa berat ketika”dipaksa” menjadi pengganti Josep Guardiola, yang kini menjadi pelatih dan satu-satunya idola para pemain Barcelona akhir dekade 2000-an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda