Scroll to Top

Gary Speed: Sang Legenda yang Telah Tiada

By Wan Faizal / Published on Monday, 28 Nov 2011

Dataran Inggris Raya kemarin berduka setelah salah satu pemain terbesar di Great Britain, Gary Speed, ditemukan tewas di rumahnya, Minggu (27/11) pagi waktu setempat.

Kematian tersebut memang mengundang tanda tanya. Apa yang sedang dialami Speed sehingga ia nekat melakukan aksi bunuh diri tersebut?

Padahal beberapa jam sebelum kematiannya, pria berusia 42 tahun itu sempat menjadi tamu di acara BBC’s Football Focus. Di acara tersebut, Speed terlihat ceria seperti biasanya, tak terlihat jika ia sedang mengalami suatu masalah atau sedang depresi.

Seperti yang diutarakan Dan Walker, presenter acara tersebut yang mengatakan Speed terlihat sangat ceria di acara tersebut dan bahkan berambisi membawa Timnas Wales yang dilatihnya untuk sukses di Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Eropa yang dimulai tahun depan.

“Ia terlihat ceria seperti yang biasa terlihat. Ia membicarakan anak-anaknya, bagaimana mereka, dan rencana untuk bermain golf pekan depan,” ujar Walker.

“Ia juga menceritakan hal-hal kecil seperti ia baru saja memiliki Twitter. Sangat menyedihkan mengetahui orang yang begitu disenangi telah tiada. Bahkan ia juga berkata akan dengan senang hati datang ke acara ini lagi sebelum Natal tiba.”

Kesedihan tak hanya dirasakan Walker. Banyak pihak yang dekat secara personal dengan Speed terpukul atas kematian Speed. Pihak yang paling merasa kehilangan tentu saja Louise yang merupakan istri Speed, serta Eddie (14 th) dan Tommy (13 th) yang merupakan anak Speed.

“Saya masih tidak percaya. Ia adalah teman dekat saya dan ia telah pergi. Ia pergi meninggalkan dua anak yang hebat dan istri yang cantik. Ia memiliki segalanya,” kata Robbie Savage, rekan Speed semasa membela Timnas Wales.

“Kemarin saya masih sempat berbicara dan bercanda dengannya. Dulu ketika ia menjadi kapten, saya selalu mencari ia jika saya memiliki masalah, karena waktu itu saya masih muda,” lanjutnya.

Dua laga Premier League tadi malam, Swansea City vs Aston Villa dan Liverpool vs Manchester City, dimulai dengan memberikan penghormatan pada Speed. Suasana mengharukan terjadi di Swansea yang memang klub dari Wales. Setelah mengheningkan cipta, fans meneriakkan nama Speed dan menyanyikan chants untuk sang legenda.

Shay Given, kiper Aston Villa, yang juga rekan dekat Speed, bahkan terlihat menangis saat mengheningkan cipta. Bisa dimaklumi mengingat Given adalah rekan dekat Speed saat keduanya bermain di Newcastle United.

“Saya sangat terkejut. Beberapa pemain saya sangat mengenal Gary. James Collins adalah anak asuhnya di timnas, sementara Shay sangat mengenalnya. Shay adalah orang pertama yang mengetahui kabar tersebut,” tutur pelatih Villa, Alex McLeish.

Langkah lebih ekstrim ditempuh oleh Craig Bellamy, striker Liverpool yang juga striker Wales. Mengetahui pelatihnya di timnas meninggal, ia meminta izin pada Kenny Dalglish agar ia diperbolehkan absen menghadapi City untuk pergi ke Wales.

“Saya sangat sulit berkonsentrasi dalam pertandingan karena memikirkan Gary. Ia adalah pria yang dihormati di sepakbola. Tidak hanya karena kemampuannya, tapi juga karena personalnya,” tambah Dalglish, manajer yang mengontrak Speed saat ia masih melatih Newcastle.

Speed yang memutuskan gantung sepatu tahun 2010 lalu juga mendapatkan gelar MBE (Members of the Most Excellent Order of The British Empire). Tidak sembarang orang tentunya yang bisa mendapatkan gelar tersebut.

“Saya mendapat kabar menyedihkan pagi ini. Saya memikirkan dan mendoakannya serta keluarga dan teman yang ditinggalkan Gary. Ia akan dirindukan banyak orang,” kata Aaron Ramsey, gelandang Arsenal yang juga kapten Timnas Wales.

Serta masih banyak lagi ungkapan duka yang ditunjukkan untuk mengenang seorang Gary Speed. Seperti yang dilakukan Hugo Viana, rekan Speed saat masih di Newcastle. Setelah timnya, Braga, kalah dari FC Porto, ia memperlihatkan kaos dengan tulisan “Gary Rest in Peace”.

Ratusan fans Leeds, klub pertama Speed, juga menunjukkan rasa belasungkawa dengan memenuhi halaman depan Elland Road, markas Leeds, untuk berkumpul memberi penghormatan pada Speed. Begitu juga dengan yang dilakukan fans Newcastle, Everton, dan Sheffield.

Sepakbola memang telah kehilangan salah satu aktor terbesarnya. Seorang pemain yang selalu total dalam bermain dan memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa, dihormati di dalam dan di luar lapangan karena kepribadiannya yang menyenangkan.

Seorang Gary Speed, pemain yang total telah bermain sebanyak 677 partai di kompetisi tertinggi di Inggris bersama Leeds United (1988-1996), Everton (1996-1998), Newcastle United (1998-2004), Bolton Wanderers (2004-2008), dan Sheffield United (2008-2010). Catatan golnya yang mencapai 103 gol juga cukup tinggi bagi pemain yang berposisi sebagai gelandang.

Setidaknya ada sebuah petunjuk yang bisa menjelaskan kematian Speed nantinya. Seorang sumber mengatakan bahwa dalam dua hingga tiga minggu ini Speed memang terlihat agak sedikit murung. Hal itu dibenarkan oleh Stan Collymore, eks striker Liverpool, yang memang juga dekat dengan Speed.

Dua pernyataan tersebut menyimpulkan sesuatu bahwa sebenarnya Speed memang sedang terlilit masalah yang cukup mengganggu dan menguras energi serta pikirannya, namun entah apa itu. Hanya Tuhan dan Speed yang tahu.

So, rest in peace, Gary Andrew Speed, MBE…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda