Scroll to Top

Hector Cuper Mengundurkan Diri Sebagai Pelatih Racing Santander

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 30 Nov 2011

Musim ini begitu pendek bagi Hector Cuper. Cuma 13 pertandingan yang dikecapnya bersama Racing Santander. Hari ini, sang Mr. Runner-up meninggalkan Los Montañeses, julukan Racing.

Sekali kemenangan dan 6 hasil imbang. Itulah rekor yang dibuat Cuper untuk Racing. Selebihnya mantan pelatih Internazionale terbiasa duduk termenung memikirkan strateginya yang berantakan.

Racing saat ini berada di dasar klasemen dengan nilai 9. Mereka hanya 9 kali membobol gawang lawan plus dibobol 20 kali. Satu-satunya kemenangan adalah saat menjamu Real Betis 1-0.

Bagi Cuper, pergi dari sebuah klub bukan hal baru. Pelatih Argentina ini sudah menangani 9 klub sepanjang kariernya. Bahkan, Real Mallorca, klub yang tengah dilanda krisis keuangan hebat, pernah mengecap dua kali masa kepelatihan Cuper.

Sempat bersinar di Valencia dan Internazionale, belakangan Cuper tak lagi andal dalam  meramu tim. Barangkali karena ia cuma menangani klub gurem, barangkali pula karena ketidakberuntungan yang melekati pelatih berusia 56 tahun ini.

Sejak dipecat pada awal musim 2003/2004 oleh Internazionale, Cuper tak pernah tenang ketika meninggalkan tim yang diarsitekinya.
Cuper pernah menangani Real Mallorca pada 2004 hingga 2006.

Ia sempat disebut sebagai juru selamat ketika meloloskan Mallorca dari jurang degradasi di akhir musim 2004/2005. Namun, ketika musim berikutnya baru berjalan setengah, mantan pemain timnas Argentina memutuskan hengkang. Gara-garanya sama seperti ini, Mallorca mengendap di dasar klasemen.

Musim 2007/2008, ia sempat memegang Real Betis. Namun, belum tiba ke perayaan Natal, Cuper dipecat karena serangkaian hasil buruk.

Selepas dari tanah Spanyol, Cuper mencoba peruntungan di Liga Italia. Lagi-lagi, ia mesti pergi sebelum kompetisi berakhir.
Maret 2008, ia menangani Parma, mantan klub yang tergabung dalam Seven Magnificent pada akhir era 1990-an.

Diminta menyelamatkan Gialloblu dari jurang degradasi, Cuper justru berlaku sebaliknya. Ia dipecat sebelum laga terakhir Serie-A musim itu dengan catatan mengenaskan. Hanya menang 2 kali dari 10 pertandingan. Kelak, Parma pun terjerembab ke Serie-B.

Di timnas Georgia dan klub Yunani, Aris Thessaloniki, keadaan tak berubah. Cuper sempat mengesankan di masa-masa awal kepelatihannya, tapi tak bertahan lama.

Julukan Mr. Runner-up disandang pelatih ini sejak kejadian bersama Valencia. Cuper sukses membawa Kelelawar ke final Liga Champions dua kali berturut-turut, yaitu pada 2000 (kalah melawan Real Madrid 0-3) dan 2001 (kalah melawan Bayern Muenchen dalam drama adu penalti).

Di Internazionale, kutukan tak kunjung lenyap. Musim 2001/2002, Ia membawa Internazionale berada di puncak klasemen hingga pekan ke-33 (saat itu Serie-A cuma dihuni 18 klub). Namun, di pertandingan terakhir, Inter kalah dari Lazio. Jadilah gelar juara jatuh ke tangan Juventus.

Bahkan, hingga tahun 2011, gelar Mr. Runner-up masih lekat kepadanya. 24 April tahun ini, Cuper membawa Aris Thessaloniki ke final Piala Yunani. Lagi-lagi, timnya kalah.

Berkaitan dengan kepergiannya dari Racing Santander, Cuper mencatatkan diri sebagai pelatih kedua yang keluar dari La Liga. Sebelumnya, Michael Laudrup, eks pelatih Real Mallorca, keluar pada 27 September 2011 setelah dipecatnya sang asisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda