Scroll to Top

‘Benua’ Atlantis Yang Hilang Ada di Sardinia Italia, Bukan Indonesia

By vratislav / Published on Tuesday, 18 Aug 2015

'Benua' Atlantis Yang Hilang Ada di Sardinia Italia, Bukan Indonesia 1

Pulau Sardinia, Italia bisa jadi adalah benua Atlantis yang hilang. Demikian yang disampaikan oleh penulis Sergio Frau. Gagasan sang peneliti tentang keberadaan pulau legendaris tersebut, berbeda dengan klaim beberapa pakar yang meyakini, lokasi sejati Atlantis adalah Indonesia.

Keberadaan Atlantis tidak pernah bisa dipastikan, apakah benar-benar nyata atau hanya rekaan Plato dalam Timaeus dan Critias. Namun, justru karena itulah, pencarian di mana letak Atlantis menjadi sesuatu yang menyedot minat banyak kalangan. Dan, hingga kini Indonesia juga dianggap sebagai solah satu lokasi yang dahulunya adalah Atlantis.

Berbagai argumen digunakan untuk mendukung teori Indonesia adalah Atlantis yang hilang. Semisal, DR Danny Hilman Natawidjaja yang pernah merilis buku “Plato Tidak Bohong, Atlantis Pernah Ada di Indonesia”. Ia menyebut dari sisi demografi, Atlatntis mirip dengan Indonesia.

'Benua' Atlantis Yang Hilang Ada di Sardinia Italia, Bukan Indonesia 2

Namun kini muncul teori baru dari Sergio Frau bahwa lokasi Atlantis yang sesungguhnya, ada di Sardinia Italia. Menurutnya, hantaman komet yang menyebabkan gelombang pasang telah menyebabkan peradaban kuno di pulau tersebut pada sekitar 2000 SM. Hal ini menyebabkan Sardinia mengalami ‘zaman kegelapan‘ pada 1.175 SM.

Frau menyebut, ujung selatan Sardinia menyerupai Pompeii ‘versi laut’ yang terendam lumpur. Di sini, ditemukan banyak alat logam, keramik, pot, dan lampu minyak, yang diperkirakan, ditinggalkan oleh penduduk setempat terburu-buru, yang menandakan adanya bencana besar yang menimpa tiba-tiba.

'Benua' Atlantis Yang Hilang Ada di Sardinia Italia, Bukan Indonesia 3

Frau juga mendasarkan teorinya pada penemuan Nuraghi, benteng megalitik yang memiliki beberapa menara utama, yang dibangung sekitar abad 16 hingga 12 SM. Menara-menara utama itu dihubungkan oleh terowongan bawah tanah dan ruang penyimpanan yang biasa digunakan untuk menjaga makanan dalam suhu 12 derajat Celcius sepanjang tahun. Keberadaan benteng tersebut menunjukkan peradaban maju yang dimiliki Pulau Sardinia kala itu.

Namun gelombang pasang yang menyapu Sardinia, memaksa penduduknya melarikan diri. Gelombang tersebut berasal dari komet yang menghantam lautan, seperti yang digagas oleh Frau, “Komet jatuh menerjang laut dengan kecepatan 20 km per detik. Cuma butuh waktu kurang dari satu detik untuk menciptakan gelombang pasang dengan ukuran 500 meter yang menghapus peradaban setempat.”

Komentar Anda