Industri Musik Indonesia Takut dengan Rock
Genre musik rock kini seolah telah menjadi barang basi bagi industri musik tanah air. Parahnya lagi, industri musik di Indonesia tampaknya “takut” dengan aliran musik yang satu ini. Akibatnya, gaung rock kian lirih terdengar, sementar genre-genre lain justru semakin membahana, sebut saja “band Melayu” atau wabah boyband dan girlband yang sedang jadi primadona.
Edwin, gitaris band Cokelat, menilai bahwa musik rock di Indonesia sekarang semakin tersisih sehingga kurang memperoleh ruang di ranah hiburan tanah air, baik di televisi maupun radio.
“Sekarang lahannya (untuk musik rock) susah, slotnya sedikit. Industri seperti takut dengan musik rock, takut nggak ada yang mendengarkan. Padahal, zaman dulu musik rock sangat booming,” keluh sang gitaris yang bernama lengkap Edwin Marshal Syarif ini di Jakarta, Senin (5/12), seperti dikutip dari TribunNews.
Edwin melanjutkan, kondisi itu kemudian membuat banyak musisi rock yang memilih jalur indie supaya tetap eksis. Mereka bertahan dengan segmen yang sangat terbatas.
Kenyataan ini tentu saja memprihatinkan, mengingat di era-era terdahulu, rock sempat bergema keras di tanah air. Kebesaran nama God Bless, Giant Step, Roxx, dan lainnya, atau musisi rock semacam Ahmad Albar, Ian Antono, Ikang Fawzi, Anggun C. Sasmi, Nicky Astria, dan seterusnya, membuktikan hal tersebut.
Namun, Edwin sangat yakin bahwa musik rock tidak akan pernah mati. Edwin percaya bahwa musik rock pada saatnya nanti akan kembali berjaya, meskipun kondisi permusikan di Indonesia sekarang belum memungkinkan karena masih berselimut awan gelap.








