Melihat ke belakang barang kali dapat menjadi terapi bagi sepak bola Indonesia yang sedang karut marut. Karena dari sanalah kita dapat mengetahui bila dunia kulit bundar tanah air bisa berjaya, tak hanya ditataran lokal namun juga internasional.

Niac Mitra Surabaya misalnya. Juara Galatama itu berhasil mengalahkan tim dari tanah Britania raya Arsenal dengan skor meyakinkan, 2-0. Pertandingan yang digelar di stadion 10 November yang amat kramat bagi warga Surabaya tersebut, menjadi catatan manis bagi setiap pecinta sepak bola nasional.  Arsenal yang pada dua laga sebelumnya berhasil menggasak PSMS Plus 3- 0 di Medan dan membantai PSSI Selection 5-0 di Jakarta. Musti tunduk pada tim lokal sekelas Niac Mitra.

The Gunners-julukan Arsenal. dulu memang belum ‘seganas’ saat ini. Saat itu adalah masa jaya Aston Villa, Liverpool dan Nottingham Forest. Kendati demikian Arsenal dalam laga tersebut diperkuat oleh Kenny samson dan Graham Rix yang juga pemain nasional Inggris, David O’Leary sang legenda hidup dan terakhir Peter White yang sempat membesut anak anak Merah Putih beberapa waktu silam.

Goal legenda sepak bola Singapura Fandy Ahmad pada menit 37 dan Joko Milas pada 85 memupuskan asa Kenny Samson dan kawan kawan. Pencapaian yang dilakukan Niac Mitra jauh lebih fenomenal bila dibanding dengan hasil imbang yang diraih oleh Marzuki Nyak Mad dan kawan kawan yang berhasil menahan imbang Feyenoord di Senayan dengan skor 3-3.

Meski muncul cibiran soal pengaturan jadwal pertandingan yang dimainkan pada pukul 2 siang atau dikeluarkannya Alan Sunderland oleh Ruslan Hatta yang bertindak sebagai wasit pada pertandingan tersebut. Tak membuat romantisme yang dirasa begitu manis itu luntur. Lebih jauh kenangan tersebut semustinya menjadi pelecut pagi insan sepak bola saat ini untuk mengukir prestasi lebih mengkilap di level internasional.

Adapun Niac Mitra kemudian bermetamorfosa menjadi Mitra Surabaya. Laga terakhir mereka pada Liga Indonesia 1997/1998, terhenti ditengah jalan karena faktor keamanan. Kemudian Mitra Surabayapun tak mewakili kota Pahlawan lagi. Lantaran hengkang ke Kutai Kertanegara dan berubah nama menjadi Mitra Kukar.