Scroll to Top

PSSI: Klub Liga Ilegal Terancam Didegradasi

By Fitra Firdaus / Published on Sunday, 11 Dec 2011

Ancaman hukuman terhadap klub-klub pembangkang Indonesian Premier League tidak tanggung-tanggung. Hukuman ini tidak hanya mengarah pada pemain, tetapi juga klub.

IPL

PSSI sempat menggunakan Pasal 79 Statuta FIFA untuk menekan para pemain asing yang bermain di ISL.

Dalam aturan tersebut, negara yang menggunakan pemain dari liga ilegal, tidak boleh berhadapan denga negara lain. Artinya, pemain-pemain liga ilegal (dalam hal ini ISL dianggap ilegal) terancam akan dicoret dari timnas negara masing-masing.

Tidak hanya pemain timnas negara asing, pemain timnas Indonesia yang bermain untuk klub pembelot juga akan dikenai hukuman sama.

Lebih jauh, ancaman ini bertambah satu lagi. Klub-klub yang bermain di ISL akan diturunkan peringkat ke level di bawah kompetisi tertinggi alias didegradasi. Bayangkan apa yang terjadi bagi klub-klub yang sudah merasa mapan seperti Persib Bandung, Sriwijaya FC, Persipura, hingga Persisam dengan segudang pemain bintang. Mereka akan memulai kompetisi dari Divisi Utama ketika “sudah insyaf”.

Namun, ancaman itu tidak akan langsung diterapkan oleh PSSI. Djohar Arifin, sang ketua umum, menegaskan bahwa yang penting saat ini adalah, semua elemen sepakbola nasional bersatu dalam liga yang legal. Katanya, “Marilah bangun sepakbola Indonesia dengan tidak mengikuti yang ilegal, yang tidak diakui oleh FIFA, AFC, dan statuta PSSI.”

Djohar Arifin Sepp Blatter

Yang perlu digarisbawahi, hukuman yang akan diberikan ini bukan hukuman dari PSSI, melainkan peraturan mutlak dari statuta. PSSI sendiri hingga kini mendapat dukungan dari FIFA dan AFC atas keputusan mereka. Terbukti, Liga Prima Indonesia dipasang di situs resmi FIFA.

PSSI sendiri tidak akan buru-buru melaporkan klub peserta liga ilegal ke AFC. Dengan tenang, Djohar Arifin meminta klub-klub tadi memberi kepercayaan untuk PSSI yang baru bekerja beberapa bulan. Menurutnya, kongres memberi amanat PSSI baru selama empat tahun. Sementara, belum apa-apa dan baru beberapa bulan, sudah ada goyangan dari kiri dan kanan.

Klub-klub peserta ISL pun semestinya menyadari, tidak ada gunanya menggunakan “urat” untuk menyelesaikan masalah kompetisi yang menurut mereka tidak fair. Dialog terbuka lebih baik daripada saling menyalahkan dan memperlebar masalah ke ranah politik. Bukan rahasia lagi kalau ISL (dan mungkin IPL) ditunggangi oleh kekuatan politik yang haus kekuasaan pada Pemilu 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda