Scroll to Top

Papua: Brazil Kecil Dari Timur Indonesia

By suguh kurniawan / Published on Monday, 20 Jun 2011

Rasanya tak akan pernah habis bila bicara soal sepak bola Papua. Lantaran dunia kulit bundar tanah air kini berkiblat ke Bumi Cendrawasih tersebut. Dari kawasan ujung paling timur Indonesia itulah selalu lahir nama nama mengkilap di kasta tertinggi sepak bola tanah air. Mulai dari era Rully Nere, Roni Wabia dan  Aples Gideon Tecwari. Hingga kini saat kompatriot macam Boas Solosa, Titus Bonai, Emauel Wanggai dan kawan kawan aktif bermain. Tak hanya berlaga di level lokal, Anak anak Papua kerap menempati posisi inti saat berseragam Garuda di dada.

Antara Anak Papua dan Brazil

Lebih jauh mengupas Sepak Bola Papua kita akan mendapati fenomena yang amat unik. Seperti dikatakan oleh Jacksen Tiago pelatih Peripura Jayapura terdapat kemiripan antara gaya bermain bola Papua dan Brazil. Jacksen mengatakan, bocah bocah Papua kerap bermain umpan pendek satu dua saat mengolah bola. “Ini adalah salah satu kemiripan yang dilakukan anak-anak Papua dan anak-anak Brasil ketika bermain bola,” ujarnya. Jogo Bonito atau bermain indah dalam istilah sepak bola Brazil memang menekankan gaya seperti demikian. Melalui satu dua sentuhan dan passing, serta meminimalisir benturan badan dengan lawan, gol gol indahpun dapat tercipta.

Sedang dari segi permainan individu, dalam terminologi tradisional sepak bola Papua dikenal istilah ‘patah kaleng’. Dalam terminologi tersebut, seseorang dikatakan sangat jago bila sanggup melewati lima pemain lawan. Tak jarang ia cerderung tampil idividualistis bahkan egois. Namun lambat lalu permainan gaya ini kurang diminati seiring berkembangnya permainan sepak bola modern. Terlebih setelah futsal yang memerlukan kolektifitas tim, makin populer di Indonesia.

Baik permaian kolektif dan individu seperti dikatakan diatas, didukung oleh kelenturan, kecepatan dan kelicahan kaki saat menggocek bola. Pemain pemain bertubuh lentur biasanya datang dari kawasan ‘kepala burung’ seperti Boaz dan Metu Dwaramuri. Adapun mereka yang memiliki kecepatan datang dari kawasan teluk. Octo Maniani dan Crist Leo Jarangga lari di kawasan ini.

Karena itu menurut Jacksen lagi,  ketika anak anak  Papua bermain bola seperti orang menari Yosim. Dribling yang cepat, gerakan yang menipu dan tubuh yang lentur menjadi ciri khasnya. Terakhir  diatas semua itu terdapat faktor kesenangan saat mereka bermain bola. Anak anak tersebut seperti halnya di Brazil tersenyum saat menggiring bola, menikmati tiap momennya kenudia mencetak gol sebanyak mungkin.

Proyek Abisius Jacksen

Guna memoles sepak bola Papua agar makin mengkilap, Jacksen Tiago menandaskan perlu dibangunnya  kerjasama dengan model  twin city football atau kota sepak bola kembar. Dalam hal ini  antara Persipura Jayapura dengan klub Flamenggo di Kota Rio de Jeneiro. Dengan demikian akan terjadi transfer pengetahuan dan teknologi sepak yang menguntungkan bagi pihak bumi Cendrawasih.

Selain itu menurut Jacksen pembinaan, latihan dan sparing partner patut dilakukan dengan klunb klub Brazil secara berkelanjutan. . “Ide ini kelihatan ambisius, tapi saya sangat yakin akan banyak membantu mereka untuk  berkembang. Ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda