Scroll to Top

Mengapa Wanita Ingin Punya Suami Mirip Ayahnya?

By Ilham Choirul / Published on Saturday, 04 Jun 2016

cinta remaja

Banyak ditemui wanita lajang sangat berharap memiliki pasangan hidup memiliki sebagian karakter mirip ayahnya. Bahkan, kesamaan tersebut diharapkan sampai pada ciri fisiknya. Keinginan wanita seperti ini memiliki alasan yang masuk akal ditinjau dari sisi psikologis.  Sebuah penelitian yang dilakuan di Amerika Serikat menemukan hal tersebut sangat berkaitan dengan proses yang disebut pre sexual programming.

Pre sexual programming mengacu pada cara seseorang belajar mengenai hubungan yang didasarkan pada perlakukan pengasuh utama mereka. Dalam kaitannya dengan anak, orang tua merupakan model yang dipelajari anak tentang hubungan.

Diungkapkan Dr Judith Wright dari Illinois, Chicago, sekalipun anak dan ayahnya punya hubungan yang buruk semenjak awal namun mereka tetap cenderung mencari persamaan di antara keduanya. Kaitannya dengan anak dan ayah, ada dua hal yang terjadi yaitu soal kenyamanan dan mereka sama-sama yakin bisa memperbaiki hubungan.

Dinyatakan pula oleh psikolog dari Colorado State University, Jenifer Harman, wanita yang tumbuh namun tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya maka dia tertarik untuk memiliki pasangan lebih tua. Dia ingin memperoleh sosok yang mampu “bekerja” layaknya sosok ayah. Kalau pun tidak seperti itu, maka wanita mungkin pula ingin mendapatkan prianya seperti sang kakek yang mungkin selama ini menggantikan peran ayah.

“Karena mereka merindukan sosok yang stabil dan bertanggung jawab seperti sosok ayah yang tidak dimilikinya dalam hidup,” kata Jennifer seperti dikutip laman Detik.

Sementara itu, banyak studi menyebutkan bahwa hubungan baik antara wanitadan ayahnya memiliki pengaruh dalam kehidupan perkawinan sang anak. Mereka cenderung berhasil dalam urusan percintaan dan pernikahan.

“Bahkan mereka juga tidak mudah hamil di luar nikah atau sudah aktif melakukan hubungan seksual di usia remaja. Mereka lebih banyak terfokus pada pendidikan dulu ketimbang menikah atau punya anak,” tutur peneliti.

Komentar Anda