Scroll to Top

Meski Kulit Jadi Coklat, Tanning Bed Berisiko Munculkan Kanker Kulit

By Ilham Choirul / Published on Monday, 19 Dec 2011

tanning bed

Orang Indonesia lebih suka punya kulit berwarna kuning langsat. Kebalikan dari itu, orang Eropa dan Amerika yang rata-rata berkulit putih, justru menyukai kulit coklat. Sebagian mereka kerap menggunakan bantuan sinar matahari untuk membuat kulit terbakar dan berwarna lebih coklat. Kalau tidak sempat berjemur matahari, mereka memakai bantuan tanning bed untuk menyoklatkan kulit.

Alat ini bekerja dengan mengeluarkan pancaran ultraviolet (UV) yang dihasilkan beberapa lampu neon. Dalam neon tersebut terdapat fosfor campuran. Kualitas UV-nya hampir setara dengan sinar matahari. Setelah terpapar sinar itu, kulit akan berubah menjadi kecoklatan.

Hanya saja, peneliti di Yale School of Public Health di Connecticut menyarankan untuk menghindari penggunaan alat ini. Paparan sinar UV dalam tanning bed sama bahayanya dengan terkena sinar matahari langsung. Kanker kulit adalah hasil final dari akibat paparan itu.

Penyebabnya, pelakunya akan mudah terserang karsinoma sel basal di lapisan sel basal pada kulit. Keadaan itu selanjutnya memunculkan dimer tinin dan merusak struktur DNA.

Profesor Susan T Mayne dari School of Public Health mengatakan, semakin lama umur alat tanning, akan memunculkan risiko kanker kulit yang lebih besar. Hasil ini ditemukan Mayne setelah meneliti 750 responden di bawah 40 tahun yang aktif menggunakan tanning bed melalui sampel luka bakar yang mereka alami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda