Scroll to Top

10 Kakak-Beradik Pesepakbola Terbaik (Bagian 1)

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 22 Jun 2011

Ada kalanya kakak dan adik menekuni dunia kerja yang sama. Bagaimana jika dunia tersebut adalah dunia sepakbola? Rasanya mencengangkan karena ada setidaknya dua orang dari satu keluarga yang namanya mendunia. Namun, rasanya juga menyesakkan jika sang kakak atau sang adik tidak sesukses saudaranya. Siapa sajakah kakak-beradik yang sukses sebagai pesepakbola setidaknya sejak era 1990-an?

 

1. Ronald-Frank de Boer

Skuad emas Ajax pada 1990-an menghasilkan pemain berkualitas semacam Edgar Davids, Edwin Van der Sar, Dennis Bergkamp, Jaap Stam, dan tentu saja si kembar Ronald dan Frank de Boer. Kakak-beradik ini “nyaris” selalu kompak di lapangan. Pernah tampil berdua di Ajax, keduanya melanjutkan kerjasama kala diboyong Louis van Gaal ke Barcelona; dan membuat cita rasa Belanda begitu kental di klub Catalan tersebut pada peralihan dekade 1990-an ke dekade 2000-an.

Dibandingkan sang kakak, Frank yang menjadi palang pintu memang sedikit lebih sukses. Frank tampil untuk timnas Belanda sebanyak 112 kali sedangkan Ronald 67 kali. Uniknya, keduanya sama-sama mencetak 13 gol untuk Belanda.

Kini, Frank menjabat sebagai pelatih Ajax sedangkan Ronald menjadi komentator sepakbola di Qatar, tempatnya menutup karier.

 

2. Filippo-Simone Inzaghi

Filippo Inzaghi yang konon menurut Sir Alex Ferguson bahkan terlahir dalam posisi offside, mengguncang dunia terlebih dahulu daripada sang adik. Pippo, demikian sapaannya pernah begitu gemilang kala berduet dengan Del Piero di Juventus. Keduanya bahkan senantiasa menjadi teror bagi lini pertahanan tim manapun di Serie A.

Ketika bercerai dengan Del Piero dan pindah ke AC Milan, Pippo sebenarnya tak muda lagi. Namun, kegarangannya masih bertahan. Bahkan, Pippo mampu memborong dua gol dalam Final Liga Champions 2007 kala Milan mengandaskan Liverpool 2-1. Pippo memadukan insting golnya yang tinggi dengan kelincahan dan kelicikan divingnya.

Dibandingkan sang kakak, Simone memang kurang cemerlang. Seperti halnya Pippo, Simone memulai karier di klub kotanya, Piacenza. Penampilan Simone yang memukau pada musim 1998/1999 membuatnya ditarik oleh Lazio. Semusim di kubu Biancocelesti, Simone membawa Lazio memenangi empat gelar: Piala Super Eropa, Liga Italia, Piala Italia, dan Piala Super Italia. Namun, seiring tenggelamnya Lazio, sinar Simone ikut meredup.

 

3. Garry-Phillip Neville

Kesuksesan Fergie Babes sejak awal 1990-an seperti David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes, dan Roy Keane, juga membawa kakak-beradik Neville. Garry yang lebih tua sepenuhnya menjadi milik Manchester United. Lebih dari 20 tahun Gary bermain untuk Sir Alex Ferguson dan menutup karier musim ini.

Sementara itu, Phillip atau biasa disapa Pally, terdepak dari skuad utama Setan Merah pada awal 20. Ia kemudian melanjutkan karier di Everton. Di The Toffees, Pally sukses besar. Bahkan, ia menjadi kapten tim dan dipanggil ke skuad The Three Lions.

 

 

4.Kolo-Yaya-Ibrahim Toure

Kasus unik terjadi di keluarga Toure. Ketiga kakak-beradik ini menjadi pesepakbola. Kolo tampil super di Arsenal sebelum hijrah ke klub kaya baru, Manchester City. Pengalamannya sebagai bek tengah sempat mengantar Kolo menjadi kapten tim The Citizens sebelum digantikan oleh Carlos Tevez. Belakangan, Kolo yang guru mengaji ini malah tersandung kasus doping. Yaya, sang adik, beberapa kali pindah ke klub-klub Eropa sebelum tampil gemilang di Barcelona.

Yaya yang berposisi sebagai gelandang bahkan pernah menjadi bek tengah di klub yang kini diasuh Pep Guardiola ini. Ketika City memberikan tawaran bergabung dengan sang kakak, Yaya tidak mau membuang peluang. Di tim asuhan Roberto Mancini ini Yaya tampil sebagai gelandang serang mumpuni. 48 kali main, Yaya mencetak 11 gol; jumlah yang wah untuk ukuran gelandang.

Dibandingkan kedua kakaknya, Ibrahim memang tidak cemerlang. Di usianya yang 25 tahun, ia bermain untuk klub Makasa. Sebelumnya Ibrahim sempat bermain di Metalurh Donetsk dan OGC Nice, tapi ia tidak berkembang.

 

 

5. Rio-Anton Ferdinand

Kakak bermain sebagai bek tengah, demikian pula adiknya. Inilah yang terjadi pada kakak-beradik Ferdinand. Sang kakak, Rio, menjadi salah satu palang pintu West Ham tersukses. Kegemilangan Rio berlanjut di Leeds United sebelum hijrah ke Manchester United. Di kubu Setan Merah, Rio memenangkan segalanya di tingkat klub. Ia menjuarai Premier League dan Piala Champions. Di timnas, Rio menjadi bek tengah yang sangat tangguh untuk The Three Lions; berduet dengan John Terry, kapten Chelsea.

Sang adik, jebolan akademi West Ham seperti kakaknya, cukup sukses bermain di tingkat klub. Anton sempat menjadi pemain reguler The Hammers sebelum kemudian hijrah ke Sunderland. Untuk ukuran timnas, Anton sempat memperkuat Inggris U18, U20, dan U21. Namun, ia belum pernah dipanggil ke timnas senior Inggris sehingga bisa saja ia memperkuat Republik Irlandia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda