Scroll to Top

10 Kakak-Beradik Pesepakbola Terbaik (Bagian 2)

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 22 Jun 2011

Ini adalah lanjutan dari bagian 1 tentang 10 Kakak-Beradik Pesepakbola terbaik. Dalam bagian awal, kita sudah mengulas nama Ronald-Frank de Boer hingga Rio-Anton Ferdinand. Siapa sajakah kakak-beradik lainnya?

 

6. Fabio-Paolo Cannavaro

Kalau di Inggris ada Rio-Anton Ferdinand, di Italia ada Fabio dan Paolo dari keluarga Cannavaro. Fabio Cannavaro pernah bermain di klub-klub besar seperti Parma, Juventus, dan Real Madrid. Bahkan Fabio menjadi palang pintu Los Merengues di usia yang tidak muda lagi, 36 tahun. Di tingkat timnas, Fabio sukses mengantar Italia menjadi juara Piala Dunia 2006 Jerman ketika ban kapten melekat di lengannya.

Meski tak sehebat sang kakak, Paolo adalah bek yang cukup ditakuti di Serie A. Sepeti Fabio, Paolo pernah bermain di Parma.

 

7. Fabio-Rafael da Silva

Pengganti kakak-beradik Neville adalah si kembar da Silva. Keduanya sama-sama jebolan Fluminense dan bergabung ke Setan Merah pada 2008. Namun, Rafael lebih konsisten bermain dibandingkan Fabio. Sir Alex sudah mempercayainya bermain 28 kali musim lalu sedangkan Fabio 24 kali.

Mengingat keduanya masih berusia sangat muda (20 tahun) kesempatan menjadi starting eleven di kubu Manchester United bukanlah isapan jempol. Permainan Fabio dan Rafael tidak hanya mengundang decak kagum para pemandu bakat atau sang manajer. The Times menyebut mereka sebagai penerus tradisi Garry-Phillip.

 

 

 

 

8. Bonaventure-Salomon Kalou

Dari tanah Pantai Gading, sekali lagi muncul kakak-beradik pesepakbola. Kali ini, Bonaventure dan Salomon dari keluarga Kalou yang kita bicarakan.

Bonaventure memulai kariernya di Eropa bersama Feyenord Rotterdam. Di klub Belanda ini, Bonaventure menjadi pemain reguler. Selanjutnya, ia hijrah ke tanah Prancis dan berlaga bersama tiga klub, Auxerre, Paris Saint Germain, dan RC Lens. Sempat bermain di Al-Jazira, Bonaventure menutup karier di SC Heerenveen. Urusan timnas, Bonaventure sudah mencetak 12 gol dari 51 penampilan.

Salomon lebih mengilap prestasinya dibandingkan sang kakak. Memulai debut Eropa di Feyenoord juga, Salomon direkrut oleh Chelsea pada 2006. Sejak saat itulah Salomon senantiasa menjadi supersub bagi The Blues. Total ia mencetak 55 gol dari 227 penampilan di Chelsea. Di timnas Pantai Gading, Kalou tapil 37 kali dan mengemas 13 gol. Dahulu, sebelum bermain untuk Pantai Gading, Salomon sempat ingin menjadi warga negara Belanda, namun permintaannya ditolak.

 

9.Murat-Hakan Yakin

Ada pula Murat dan Hakan Yakin dari Swiss. Keduanya sama-sama memberikan kontribusi maksimal untuk timnas di era masing-masing. Murat sempat membela dua klub Jerman, Vfb Stuttgart dan 1.FC Kaiserslautern. Ia juga pernah membela Fenerbahce. Murat menutup karier di FC Basel pada 2006. Kini ia menjabat sebagai pelatih FC Luzern di Swiss.

Sang adik, Hakan, juga lebih banyak berkarier di klub lokal Swiss. Hakan sempat mencicipi dua liga yang digeluti kakaknya. Di Jerman, Hakan membela Stuttgart dan di Turki Hakan bergabung dengan Galatasaray.

Untuk urusan timnas, Hakan yang bisa menjadi striker atau gelandang serang, tercatat sebagai pencetak gol ulung. Dua golnya ke gawang Portugal di Grup A pada Euro 2008 membuat Swiss untuk pertama kalinya menang dalam putaran final Euro. Total Hakan bermain 86 kali dan mencetak 20 gol.

 

10. Gabriel-Diego Milito

Kakak-beradik terakhir dalam list ini adalah Gabriel dan Diego Milito dari Argentina. Gabriel yang lebih muda setahun berlaga di Liga Spanyol bersama Rea Zaragoza dan kini Barcelona. Namun, sayang Gabriel cukup rentan cedera dan usianya tidak muda lagi sehingga menjadi pilihan kedua di kubu Blaugrana. Gabriel dipanggil ke timnas senior 35 kali dan mencetak 1 gol.

Sang kakak, Diego, kini tengah menikmati persaingan keras di Serie A bersama Internazionale Milan. Milito menjadi penentu kemenangan Inter saat menjuarai Liga Champions tahun 2010 kala mengandaskan Bayern Muenchen 2-0 (mencetak 2 gol). Tahun ini, Milito juga membantu Inter Milan menjuarai Copa Italia dengan mencetak 1 gol saat Inter bersua Palermo di final dengan skor 3-1. Di timnas, Diego mencetak 4 gol dari 24 penampilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda