Scroll to Top

5 Pemain Kelas Dunia yang Merumput di Indonesia

By suguh kurniawan / Published on Wednesday, 22 Jun 2011

Sepakbola Indonesia terasa lebih berwarna dengan tampilnya para pemain asing di klub klub perserta liga. Tiap musim regulasi para ekspatriat itu silih berganti. Kendati demikian terdapat lima nama yang dianggap paling mengkilap lantaran kiprah mereka yang telah mendunia. Berikut kelima pemain tersebut menurut observasi Sidomi.com:

1. Roger Milla

Pria kelahiran Aouande pada 20 Mei 1952 ini merupakan penyerang terbaik yang dimiliki Kamerun. Mengawali karir profesional di klub Eclaire de Douala pada 1965, membuat ia kemudian malang melintang membela sebelas klub lain termasuk AS Monaco dan Saint Etienne. Karir Milla di tim nasional dimulai pada 1978. Empat tahun berselang ia dipanggil kembali untuk piala dunia 1982.

Sempat menyatakan mundur dari timnas pada 1987, secara mengejutkan ia tampil kembali di piala Dunia 1990. Pilihannya tak salah karena dirinya berhasil mencetak 4 gol dan menjadikan Kamerun sebagai tim Afrika pertama yang tampil di perempat final laga sepak bola sejagad itu. Tua tua keladi, barangkali itu julukan yang pas buatnya lantaran ia melakukan semua itu saat usianya menginjak angka 38. Di Indonesia Roger Milla bermain untuk Pelita Jaya Jakarta pada 1994 sampai 1996 dengan mencetak 23 gol dari 23 pertandingan.  Musim kompetisi 1996-1997 dirinya hijrah ke Persisam Putra Samarinda.

2. Maboang Kessack

Setali tiga uang dengan rekan senegaranya Roger Milla, Maboang  Kessack pun pernah merecapi gempitanya Piala Dunia. Pria kelahiran 27 Januari 1968 ini  berlaga di Piala Dunia 1990 Itali dan 1994 Amerika Serikat. Sebelum merumput di Pelita Jaya selama dua musim dari 1996 hingga 1998. Ia memperkuat klub lokal Kamerun Canon Yaounde. Kemudian pada musim 1991-1992 hijrah ke Portugal dan resmi berseragam Portimonense. Setahun berselang, kembali klub di negeri Chistiano Ronaldo itu ia bermain. Kini Rio Ave dibelanya dari 1992 hingga 1995.

3. Mario Kempes

Pria kelahiran Bell Vile 15 Juni 1954 ini sukses membawa Argentina juara dunia pada 1978. “Menjuarai Piala Dunia adalah sesuatu yang sudah lama diimpikan seluruh warga Argentina dan kami akhirnya bisa memberikannya kepada mereka. Saya ingat bahwa masuk timnas karena Osvaldo Piazza tak disertakan,” ujarnya. Saat itu kempes adalah satu satunya pemain diluar Argentina yang dipanggil untuk memperkuat tim Tango setelah menarik minat pelatih  Cesar Luis Menotti. Ia bermain tim La Liga Valencia selama dua musim dan meraih gelar “El Pichichi” alias top scorer dua musim berturut tururt yakni pada musim 1976-77 dengan 24 gol dan musim berikutnya mencetak 28 gol.

Selama mewakili negaranya pada piala dunia 1974, 1978 dan 1983 Kempes bermain 43 kali serta mencetak 20 gol. Dirinya merumput di Liga Indonesia dengan membela Pelita Jaya pada 1996. Kendati demikian, kempaannnya sudah jauh menurun saat itu. Setelah gantung sepatu pada usia 41 tahun ia kemudian beralih profesi menjadi  komentator sepak bola.

4. Fandy Ahmad

Meski timnas Singapura tak berlaga di piala dunia, namun nama Fandi Ahmad bagitu melendenda bagi dunia sepak bola negeri singa itu. Lahir pada 29 Mei 1962, Fandy kemudian tumbuh menjadi pesepak bola jempolan. Ia sukses merumput di Asia dan Eropa. Di ‘benua biru’ Fandi pernah bermain di Piala UEFA.

Sempat menolak tawaran Ajax Amsterdam yang akan membayarnya dengan badrol 40 ribu USD pertahun lantaran tak sreg dengan isi kontrak, Fandy kemudian memilih Niac Mitra Surabaya. Dirinya mencetak 13 gol dan membawa klub kebanggaan warga Surabaya itu juara Galatama. Hengkang dari Indonesia pada 1983 lantaran PSSI melarang adanya pemain asing membuat Fandy melanglang buana hingga Eropa. Dua musim ia membela Fc Groningen dari 1983 hingga 1985. Selain itu iapun memperkuat pula sejumlah klub di Singapura dan Malaysia seperti Kuala Lumpur FC, Pahang FC, Gelyang United dan Singapore Armed Force.

Suami dari Nur Azizah ini terpilih menjadi pemain terbaik Asia pada 1996. Kembali ke Indonesia, Fandi tak lagi menjadi pemain namun pelatih. Pada 2007 ia membesut Pelita Jaya dan dikontak selama 3 tahun.

5. Pierre Njanka

Pemain yang dikenal karena keprofesionalan dan keseniorannya ini akrab dipanggil Papa. Njangka dua tahun terakhir memperkuat skuad Arema Indonesia dan berposisi sebagai pemain bertahan. Karir Njanka sendiri terbilang amat mengkilap. Pria kelahiran Doula pada 15 Maret 1975 ini adalah salah satu anggota tim nasional Kamerun pada Piala Dunia 1998 dan 2002. Kemudian iapun bermain pula pada piala Afrika 2004. Bermain 47 kali untuk tim nasional Njanka mencetak 2 gol.

Sepupu dari pemain Persema Malang Semme Patrick ini musim kompetisi 2009-2010 membawa Arema Indonesia juara liga. Selain itu iapun suskses membawa tim keanggaan Aremania tersebut di Copa Indonesia pada 2010 meski hanya menduduki posisi Runner up.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda