Scroll to Top

3 Alasan Kabar Hoax Cepat Sekali Viral

By Ilham Choirul / Published on Saturday, 24 Dec 2016

FB HOAX

Kabar hoax yang bertebaran di media sosial makin meresahkan. Pasalnya banyak netizen terpengaruh dengan konten bohong itu dan kembali menyebarkannya melalui kronologi statusnya. Walhasil kabar bohong yang terlanjur viral tersebut lantas dianggap sebagai sebuah fakta, padahal pada kenyataan hanyalah kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Sejak media sosial booming, banyak netizen menjadikannya sebagai rujukan informasi. Dalam arti, mereka mudah percaya begitu saja dengan informasi yang beredar di media sosial. Celakanya, ada banyak pihak yang memanfaatkan ini untuk mencari keuntungan,” kata Dewi Widya Ningrum salah seorang pegiat Internet Sehat, seperti dikutip laman Detik Inet.

Seringkali kabar hoax diawali oleh oknum yang sengaja menyebarkannya dan menyebutkan sumbernya dari situs abal-abal. Situs ini umumnya punya tujuan untuk mencari keuntungan semata melalui iklan yang ditampilkan. Semakin tersebar kabar bohong ini menjadi keuntungan buat oknum tersebut karena banyak kunjungan ke lamannya. Celakanya, netizen yang meyakini kabar itu benar akan memperluas penyebarannya.

Menurut Nukman Luthfie, pengamat media sosial, kabar yang bersifat hoax merupakan cerminan kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuatau yang biasa dalam kehidupan. Namun adanya media sosial memperburuk keadaan. KKabar hoax justru makin menyebar secara massif.

“Kenapa? Karena yang menyebarkan pada umumnya gak tahu kalau itu memperburuk hoax. Ada juga yang tahu, tapi menyebarkannya dengan tujuan tertentu, itu juga ada,” tutur Nukman,

Lanjut Nukman, setidaknya ada tiga hal yang mendasari mudahnya kabar hoax menyebar viral. Pertama, netizen tidak paham dalam membedakan kabar yang benar sesuai fakta dengan kabar bohong. Kedua, netizen cenderung hanya membaca judul sebuah artikel yang dibagikan tanpa mau membaca isinya secara lengkap. Dia lantas ikut membagikan ke status kronologinya. Terakhir, netizen sudah membaca artikel sekilas, namun terlalu buru-buru menyimpulkan.

“Dengan tiga hal itu, ditambah dengan situasi panas seperti Pilkada, perang opini, penyebaran hoax meningkat. Muncul juga situs abal-abal yang memproduksi berita-berita yang gak tahu kebenarannya,” ujar Nukman.

Oleh sebab itu netizen perlu untuk melakukan pengecekan kebenaran kabar yang didapatkannya di media sosial. Mereka harus menunjukkan kekritisannya dan tidak langsung percaya dengan kabar tersebut apalagi yang terindikasi hoax.

“Paling tidak, selalu kritis. Jangan hanya membaca judul, cek dan ricek kebenarannya, ikuti akun-akun terpercaya dan saring informasi dengan memanfaatkan fitur yang ada di media sosial,” katanya.

Komentar Anda