Scroll to Top

Profesor Joshapat dari Indonesia Diperebutkan Dunia Gara-Gara Temuannya Ini

By Ilham Choirul / Published on Monday, 02 Jan 2017

joshapat

Ilmuwan-ilmuwan asal Indonesia tidak boleh diremehkan kemampuannya. Seperti ilmuwan bernama Prof. Dr. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo ini, kini dirinya menjadi rebutan berbagai negara lantaran mampu menemukan teknologi baru dalam bidang synthetic apparture radar (SAR) yang merupakan pemindai objek jarak jauh dan bisa menembus awan dan gelapnya malam.

Profesor 46 tahun ini setidaknya menjadi incaran lembaga antariksa dunia seperti NASA (AS), JAXA (Jepang), ESA (Eropa), dan KARI (Korea Selatan). Tenologi temuannya sudah memiliki hak paten. Perlu diketahui, secara konvensional untuk menerapkan SAR diperlukan satelit dengan uuran besar berbobot 1.000 kilogram. Namun dengan temuak Prof Josaphat, ukuran alat bisa disusutkan sampai sepersepuluhnya.

Teknologi SAR konvensional sering diterapkan oleh NASA, JAXA, dan ESA. Tekonologi ini bisa dipakai untuk berbagai keperluan. Sementara itu keunggulan  SAR yang ditemukan Prof Joshapat dapat dipakai pula untuk memindai planet dan benda angkasa lain yang letaknya sangat jauh dari bumi.

joshapat1

Dikutip dari laman Angkasa, Guru Besar teknologi penginderaan jauh Universitas Chiba, Jepang, itu  membuat radar mikro yang dilabeli Circularly Polarized – Synthetic Aperture Radar atau CP-SAR. Kegiatan pembuatan alat dilakukan di Lab Josaphat dan siap disematkan pada satelit buatan Lapan.

“Yang selama ini digunakan dunia adalah jenis linear polarized. Nah, berdasar prinsip microwave, saya berhasil mengembangkan yang circular. Saya kembangkan sejak 2010, dan kini saatnya saya pasang di satelit mikro buatan Indonesia, Lapan A-5,” tutur Joshapat.

Satelit yang mendapat kehormatan disematkan alat radar temuan Joshapat memiliki bobot hanya 150 kilogram. Dan, satelit A5 yang akan “dinaikkan” ke angkasa pada 2021 itu akan membuat kebanggan tersendiri. Pasalnya dapur pacu untuk CP-SAR murni seluruhnya buatan orang Indonesia dan tidak sepenuhnya dibuka pada dunia. Sebelumnya, Lapan memiliki satelit Lapan seri A yang memakai pemindai optis buatan luar negeri dan punya banyak kelemahan.

Menurut professor yang merupakan alumnus SMA Negeri 1 Surakarta tu, CP-SAR dapat dimanfaatkan dalam pelacakan pesawat, kapal perang siluma (stealth), hingga menjadi radar AESA. Prof Josaphat senagaja memilih bekerja sama dengan Lapan karena rasa cintanya untuk memajukan Indonesia. TNI AU pernah meminta agar teknologi CP-SAR bisa ditanamkan pada pesawat intai. Namun menurut Prof Josaphat lebih tepat penggunaannya pada satelit mikro. Untuk mengamati seluruh Indonesia, setidaknya butuh lebih dari satu satelit mikro.

“Kalau orbit satelitnya polar, butuh lima. Tapi kalau dari jenis equatorial, cukup dua. Begitupun saya sudah mencobanya di pesawat tanpa awak buatan Josaphat Laboratory Experimental UAV di Universitas Chiba, Jepang, dan itu berhasil,” ungkap Josaphat yang juga pernah bekerja di BPPT.

Komentar Anda