Scroll to Top

Aksi 121 Bela Rakyat Digelar di 19 Titik di Indonesia, Usung Tiga Tuntutan Ini!

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 12 Jan 2017

Aksi 121 Bela Rakyat Digelar di 19 Titik di Indonesia, Usung Tiga Tuntutan Ini!

Aksi 121 atau Aksi Bela Rakyat digelar oleh aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia pada Kamis, 12 Januari 2017. Dalam aksi yang dilakukan di 19 titik di negeri ini, diusung tiga tuntutan utama. Yaitu, dicabutnya kenaikan tarif  pengurusan surat tanda nomor kendaraan (STNK), kenaikan tarif listrik dan BBM nonsubsidi, juga kenaikan harga komoditas.

Sebelumnya, Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI (GNPF MUI) mengadakanAksi 411 atau Aksi Bela Islam Jilid II dan Aksi 212 atau Aksi Bela Islam Jilid III. Dan kini, ada aksi lain dengan tema berbeda, yang dilabeli berdasarkan tanggal digerakkannya aksi tersebut, yaitu Aksi 121 (12 Januari) bertajuk Aksi Bela Rakyat. Aksi ini dilakukan di berbagai tempat, di antaranya Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, dan Merauke.

Koordinator BEM se-Indonesia Wilayah Jawa Barat, Ahmad Fauzi kepada Tempo menuturkan, tiga tuntutan mahasiswa ini tidak main-main. Harga komoditas yang naik, sebagai cabai, yang angkanya membengkak jadi dua-tiga kali lipat, dinilai tidak wajar. Meskipun kenaikan ini terjadi dengan alasan kelangkaan, Aliansi BEM se-Indonesia menganggap, kenaikan itu tidak wajar karena terlalu tinggi.

Aksi Bela Rakyat

Berikutnya, tuntutan lain adalah, pencabutan PP No.60 Tahun 2016 tentang kenaikan tarif penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Akibat penerapan PP ini, tarif mengurus STNK naik. Tuntutan lain adalah, menolak kenaikan tarif dasar listrik golongan 900 VA. Sebagai ganti, aliansi BEM se-Indonesia mendesak dikembalikannya subsidi untuk tarif dasar listrik golongan tersebut.

Ketua BEM UI 2017 Muhammad Syaeful Mujab, dalam rilisnya dikutip dari Tempo, menyebut BEM se-UI tidak ikut aksi ini. Namun pihaknya tidak melarang jika fungsionaris BEM se-UI atau mahasiswa UI yang turun ke jalan. Pada prinsipnya, BEM UI mendukung aksi tersebut sebagai upaya menyuarakan aspirasi.

Mujab juga menyebut, pihaknya memilih menunggu respons Presiden Jokowi atas tuntutan mahasiswa ini. Kemudian, jika nantinya tidak ada iktikad baik dari pemerintah untuk menyelesaikan keadaan, maka pergerakan mahasiswa bisa saja terjadi.

“Jika tidak ada itikad baik pemerintah untuk memperbaiki kondisi yang ada, kami akan melakukan mobilisasi massa dalam jumlah yang besar,” tutur Mujab dikutip dari Tempo.

Foto: CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari

Komentar Anda