Scroll to Top

10 Ayah-Anak Pesepakbola Tersukses (Bagian 1)

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 23 Jun 2011

Ada istilah like father like son atau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Hal ini juga berlaku di dunia sepakbola. Ayahnya sukses sebagai pemain besar dan bakat tersebut menular pada anaknya. Siapa sajakah mereka?

 

1. Cesare-Paolo Maldini

cesare-paolo maldiniCesare Maldini, yang melatih Italia (dan anaknya sendiri, Paolo) pada 1996—1998, sebelumnya pernah bermain sebagai defender utama AC Milan pad 1954—1966. Cesare tercatat bermain sebanyak 347 kali untuk Milan dan mencetak 3 gol. Di timnas, Cesare memperkuat Italia di Piala Dunia 1962 dan 1966.

Sang anak, Paolo, tampil lebih gemilang daripada ayahnya. Seumur hidup, Paolo hanya membela satu klub, AC Milan, selama 24 tahun. Ia total bermain 647 kali di Rossoneri sekaligus menjadi pemain yang bermain terbanyak di Serie A. Nomor 3 yang dipakai Paolo tidak akan dipakai lagi oleh siapa pun kecuali jika anaknya kelak bermain di AC Milan.

Uniknya, Cesare dan Paolo sama-sama pernah mengangkat Piala Champions (di era Cesare bernama European Cup). Cesare mengangkat piala tersebut sebagai kapten AC Milan pada 1963 kala usianya 31 tahun. Paolo melakukannya pada 2003 di usia 35 tahun. Mereka tercatat sebagai satu-satunya ayah-anak yang bisa melakukan hal demikian.

 

2. Valentino-Sandro Mazzola

Valentino-Sandro MazzolaValentino Mazzola adalah pemain kunci klub Torino pada dekade 1940-an. Dalam kurun waktu itu, Valentino sukses membawa Torino memborong lima scudetto Serie A dalam lima musim berturut-turut. Sayangnya, Valentino ikut meninggal dalam tragedi Superga Crash. Saat itu seluruh pemain utama Torino tewas dalam kecelakaan pesawat terbang.

Sandro, anak Valentino, melanjutkan kesuksesan sang ayah. Sandro bergabung dengan Internazionale Milan dan menjadi salah satu legenda bagi klub tersebut. Bersama Inter, Sandro memenangkan empat gelar Serie A dan dua gelar juara Eropa pada 1960-an hingga awal 1970-an.

 

 

 

 

 

3. Johan-Jordi Cruyff

Johan Cruyff dan Jordy CruyffSiapa yang tidak mengenal Johan Cruyf? Pemain yang lekat dengan konsep total football ini adalah legenda hidup Belanda. Selama 11 tahun membela Ajax, Cruyf mencetak 204 gol. Cruyff juga membawa Ajax menjuarai Eredivisie, Liga Belanda, delapan kali dari 11 tahun tersebut.

Cruyf sempat pula merasakan keindahan sepakbola Spanyol bersama Barcelona. Setelah pensiundan menjadi pelatih tim Catalan ini, Cruyff bahkan kemudian menjadi salah satu pelatih tersukses El Barca dengan mengantar Barcelona menjuarai La Liga 4 kali berturut-turut dari 1991 hingga 1994.

Untuk urusan timnas Belanda, jika Cruyff mencetak gol, Belanda tidak pernah kalah. Sayang, prestasi tertingginya hanyalah membawa Belanda menjadi runner up Piala Dunia 1974 karena kalah dari Jerman dalam final ideal tahun itu.

Sang anak, Jordi, memulai karier di Barcelona kala klub tersebut ditukangi sang ayah. Namun, seiring didepaknya Johan, Jordi juga mesti angkat kopor. Ia berlabuh ke Manchester United dan menjadi pemain utama pada musim 1996/1997. Namun, setelah cedera, Jordi mesti terus tergeser dari lini utama Setan Merah hingga akhirnya ia kembali ke Spanyol, bermain untuk Celta Vigo, Alaves, dan Espanyol.

Setelah gantung sepatu pada 2010 saat membela Valetta, klub di Liga Malta, Jordi menjadi manajer AEK Larnace. Sementara itu, bersama timnas Belanda, Jordi tampil 9 kali dan mencetak 1 gol.

 

4. Harry-Jamie Redknapp

Harry Redknapp dan Jamie RedknappHarry Redknapp adalah pemain reguler untuk West Ham pada periode 1965 hingga 1972. Ia tercatat bermain 175 kali dalam 7 musim. Posisinya saat itu adalah gelandang.

Setelah pensiun,  Harry memulai karier kepelatihannya dengan menangani Bournemouth, klub yang juga pernah dibelanya selama 4 musim, pada 1983. Sembilan tahun menangani klub ini, Harry kemudian berhasil mendapatkan kesempatan untuk melatih tim-tim Premier League, yaitu Porstmouth, Southampton, dan terakhir Tottenham Hotspurs.

Memang prestasi tertingginya hanya mengantar Portsmouth menjuarai Piala FA 2008. Namun, Harry selalu memberikan sentuhan magis untuk tim yang diasuhnya. Bersama Tottenham, ia bisa mengantar kubu Spurs menembus Piala Champions musim lalu.

Sang anak, Jamie, memulai karier di bawah asuhan Harry di Bournemouth. Pada 1991, ia memutuskan hijrah ke Liverpool dan meraih kesuksesan bersama The Reds. Selama 11 tahun di Liverpool, Jamie bermain 238 kali.

Kritikan tajam mengarah kepadanya karena kehidupan Jamie di luar lapangan justru terlalu mengarah pada kehidupan selebritis. Setelah mendapatkan beberapa kali cedera serius, Jamie pensiun di Southampton pada 2005.

Dari segi penampilan di timnas, Jamie lebih baik daripada sang ayah. Jamie sudah 17 kali merumput bersama The Three Lions sedangkan Harry tidak pernah dipanggil ke timnas.

 

5. Frank Lampard Senior-Junior

Frank Lampard Senior dan JuniorAda dua Frank Lampard di Inggris, yang senior dan anaknya, si junior. Frank Lampard senior membela West Ham sejak 1967 hingga 1985 (18 tahun). Ia tampil sebanyak 551 kali untuk The Hammers di seluruh kompetisi. Frank Lampard senior gantung sepatu pada 1986 di Southend United.

Uniknya, Frank Lampard Senior sempat menjadi asisten pelatih West Ham pada 1994 hingga 2001. Ia sempat merasakan bekerjasama dengan Harry Redknapp yang merupakan saudara iparnya sendiri.

Frank Junior tampil lebih baik daripada sang ayah. Si Junior ini bahkan telah menjadi legenda saat ia masih bermain bersama Chelsea. Lampard tercatat sebagai gelandang tersubur sepanjang sejarah Premier League (139 gol).

Rekor lain, Lampard mencatatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak untuk Inggris dari titik penalti (7 kali). Rekor ini didapatnya kala mengeksekusi penalti melawan Swiss 2-2 kemarin. Lampard juga tercatat sebagai pemain Chelsea dengan IQ tertinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda