Scroll to Top

10 Ayah-Anak Pesepakbola Tersukses (Bagian 2)

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 23 Jun 2011

Ada istilah like father like son atau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Hal ini juga berlaku di dunia sepakbola. Ayahnya sukses sebagai pemain besar dan bakat tersebut menular pada anaknya. Siapa sajakah mereka?

 

6. Pablo-Diego Forlan

Pablo Forlan dan Diego ForlanDari Uruguay, ada Pablo dan Diego Forlan. Pablo adalah pemain timnas Uruguay pada era 1960-an hingga 70-an. Pablo juga masuk dalam tim Uruguay pada Piala Dunia 1966.

Sang anak, Diego Forlan, tercatat sebagai striker kelas wahid. Sempat bermain di Manchester United, kini Forlan menikmati perannya di Atletico Madrid. Ia berduet dengan Sergio Kun Aguero, menantu Maradona. Uniknya, Maradona sempat membantu saudara perempuan Forlan dalam menangani sebuah yayasan amal.

Di timnas Uruguay, posisi Forlan tidak tergantikan. Kita masih mengingat bagaimana Forlan dan Luis Suarez bahu-membahu untuk mengantarkan Uruguay menembus semifinal Piala Dunia 2010. Forlan sendiri tercatat sebagai pemain terbaik pada Piala Dunia yang digelar di Afrika Selatan tersebut.

 

7. Carles-Sergio Busquets

Carles Busquets dan Sergio BusquetsDari Spanyol, ada Carles dan Sergio Busquets. Carles Busquets adalah kiper cadangan Barcelona dalam beberapa waktu  ketika Barcelona berada pada era emas di awal 1990-an. Kini Carles menjabat sebagai pelatih kiper Barcelona.

Sang anak, Sergio, menjadi gelandang bertahan mumpuni di klub yang sama. Sergio bahkan mampu membuat Yaya Toure mesti pindah klub ke Manchester City karena posisinya direbut sang pemain jebolan akademi La Masia ini.

Tiga musim bersama Barcelona, Sergio tampil sebanyak 137 kali dan mencetak 5 gol. Di tingkat timnas, Sergio sudah bermain 28 kali dan belum mencetak gol.

 

8. Wlodzimierz-Ebi Smolarek

Wlodzimierz dan Ebi SmolarekMeski negaranya, Polandia, kurang terkenal, ayah-anak Wlodzimierz-Ebi Smolarek barangkali justru menjadi salah satu ayah-anak tersukses di sepakbola.

Wlodzimierz sang ayah, pernah bermain di Eintracht Frankfurt (Jerman), dan Feyenoord plus Utrecht (Liga Belanda). Wlodzimierz menjadi pemain inti timnas Polandia kala Polandia menjadi peringkat ketiga Piala Dunia 1982.

Setelah pensiun, Wlodzimierz menjadi pelatih tim muda Feyenoord. Pada 2009, ia dipanggil timnas Polandia untuk berpartisipasi dalam program pengembangan pemain muda mereka.

Ebi sang anak lebih jauh berkelana daripada sang ayah. Ebi sempat bermain di Feyenoord (belanda), Borussia Dortmund (Jerman), Racing Santander (Spanyol), Bolton Wanderers (Inggris), sebelum bermain di Liga Polandia.

Ebi turut mengantar Polandia masuk ke Piala Dunia 2006 di Jerman. Namun, ia gagal mencetak satu gol pun dari tiga pertandingan. Namun, jika bermain di kualifikasi Piala Dunia dan Piala Eropa, Ebi adalah striker Polandia paling garang. Total ia mencetak 20 gol dari 47 penampilan.

 

9. Jean-Youri Djorkaeff

Jean dan Youri DjorkaeffJean Djorkaeff adalah pemain nasional Prancis pada 1960-an hingga awal 1970-an. Ia pernah membela klub-klub besar Prancis seperti Olympique Lyonnais, Olympique Marseille, dan Paris Saint Germain (PSG).

Untuk level timnas senior, Jean bermain 48 kali untuk Prancis, termasuk di Piala Dunia 1966. Ia sempat melatih beberapa klub seperti Olympique Marseille, Paris FC, FC Grenoble, dan AS Saint-Étienne sebelum beristirahat total dari sepakbola pada 1984.

Sang anak, Youri, menjadi salah satu pemain tersukses di Prancis. Youri pernah mencicipi empat liga terbaik Eropa, yaitu Liga Prancis, Liga Italia, Liga Jerman, dan Liga Inggris. Bersama Internazionale, Youri menjuarai Piala UEFA 1998.

Youri menjadi salah satu pemain kunci kala Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 dan 2004. Total, ia bermain sebanyak 82 kali dan mencetak 28 gol.

Youri tidak hanya jago bermain di lapangan. Ia pernah merilis single lagu “Vivre dans Ta Lumière“. Ia juga diangkat menjadi salah satu kesatria The Légion d’honneur pada 1998.

 

10. Miguel-Jose Manuel Reina

Miguel dan Jose Manuel ReinaMiguel Reina adalah eks kiper dua klub terbaik Spanyol, Barcelona dan Atletico Madrid. Di Barcelona, Miguel berhasil mendapatkan trofi Ricardo Zamora pada musim 1972/1973. Penghargaan ini diberikan kepada kiper yang paling sedikit kebobolan selama semusim.

Empat musim kemudian, Miguel mengulang prestasi mendapatkan trofi Ricardo Zamora di Atletico Madrid. Di timnas Spanyol, ia bermain 5 kali.

Sang anak, Jose Manuel Reina, juga memulai karier dari Barcelona. Pemain yang dijuluki Pepe ini sempat hijrah ke Villareal sebelum menjadi pemain utama Liverpool. Prestasi Reina sangat luar biasa di kubu The Reds.

Pepe adalah salah satu kunci Liverpool memenangi Piala Super Eropa 2005. Ia juga tercatat sebagai kiper terbaik Liga Inggris dalam tiga musim berturut-turut, 2005/06, 2006/07, dan 2007/08.

Pepe menjadi pilihan kedua timnas Spanyol, mengalahkan Victor Valdes, tapi menjadi back-up Iker Cassilas. Ia mengantarkan Spanyol menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Total, ia bermain 21 kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda