Scroll to Top

Eks Kiper Timnas Uruguay Menjadi Sopir Taksi

By Fitra Firdaus / Published on Saturday, 31 Dec 2011

Saat-saat paling sulit bagi seorang pemain sepakbola adalah kala ia memutuskan gantung sepatu. Di usia yang sudah tak muda lagi, ia harus menentukan pilihan hidup untuk pekerjaan berikutnya.

Alvaro Nunez

Demikian pula dengan mantan kiper Uruguay, Alvaro Nunez. Memulai karier bersama Fenix, klub lokal negaranya, Nunez memutuskan untuk hijrah ke La Liga pada tahun 1999. Klub kecil Numancia yang dipilihnya.

Hampir sepuluh tahun Nunez tampil untuk Numancia hingga 2008. Total, ia berlaga sebanyak 136 kali khusus dalam Liga Spanyol saja. Bersama klub berjuluk Numantinos ini, Nunez merasakan nikmatnya era keemasan klub.

Mereka memang tidak mendapatkan gelar apa pun sepanjang keberadaan Nunez. Namun, lihatlah catatan Numancia. Sepanjang sejarah, mereka cuma 4 musim berlaga di Primera Division. Tiga di antaranya dilalui ketika Nunez menjadi penjaga gawang tim.

Bahkan, sebelum pindah ke klub lain, Nunez ikut berjasa mengantar Numancia promosi ke Primera Division musim 2008/2009, meskipun lebih sering duduk di bangku cadangan.

Ketika hijrah pada 2008, Nunez memilih klub CD Guadalaraja. Klub ini bukanlah klub yang membesarkan nama Javier Hernandez. Melainkan klub bernama sama, yang berlaga di Segunda Division B. Dua musim merumput di sini, akhirnya Nunez pensiun. Namun, pantang untuknya kembali ke Uruguay. Demi sang istri, Nunez bertahan di Soria dan menjadi sopir taksi.

“Anda bisa mengatakan saya berada di Soria untuk cinta,” jelas penjaga gawang yang sudah melakoni sekali laga bersama timnas Uruguay.

Kini, sebagai sopir taksi, Nunez memiliki banyak cerita yang bisa dibagi untuk para penumpang atau sesama pengemudi. Nunez akan menggambarkan betapa bangganya ia ketika mampu tampil di dua stadion impian, Santiago Bernabeu dan Nou Camp. “Saya tidak lupa betapa menggetarkannya mendengar para penggemar bersorak dan melambaikan syal dari belakang gawang.”

Nunez sendiri merupakan kiper cadangan Uruguay dalam Copa America 1999. Kala itu, Uruguay masih merupakan raksasa yang tertidur, mampu mencapai final sebelum dikuliti trio Ronaldo-Rivaldo-Amoroso dengan skor telak 3-0.

Barangkali, perbedaan Nunez dengan eks pesepakbola di negara kita, adalah pilihan hidup. Nunez tak tega pindah dari Soria dan memilih pekerjaan sebagai sopir taksi. Sementara, pemain bola kita, jika gantung sepatu, lebih sering bekerja serabutan karena terpaksa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda