Scroll to Top

Aturan Bosman dan Webster: Cikal Bakal “Berkuasanya” Para Pemain

By Wan Faizal / Published on Friday, 24 Jun 2011

Sepakbola yang berkembang menjadi sebuah industri membuat klub menjadi penguasa,yang mengontrol penuh semua asetnya, termasuk para pemain. Termasuk dalam urusan transfer. Hak pemain yang ingin pindah klub seperti dikebiri oleh klub pemilik. Meski kontraknya telah habis, pemain tidak bisa langsung pindah klub jika klub pemilik ingin pemain tetap bertahan.

Pembaruan perihal transfer muncul pada 1977-1978. Pemain bisa lebih bebas dalam menentukan kariernya setelah kontraknya habis. Tapi, klub pembeli harus menyetor sejumlah uang jika ingin mendapatkan sang pemain mesti kontrak sang pemain dengan klub lama telah habis.

Ketika terjadi deadlock dalam negosiasi, kedua klub boleh memakai jasa pihak ketiga untuk menentukan masalah harga pemain. Namun tetap klub peminat lah yang harus maju terlebih dahulu.

Syarat itulah yang menjadi permasalahan dalam kasus Jean-Marc Bosman dengan klubnya FC Liege pada 1990. Keinginan Bosman untuk pindah ke Dunkirk FC dihalang-halangi Liege. Liege memasang harga yang terlalu tinggi sehingga Dunkirk tak mampu memenuhinya.

Posisi Bosman di Liege pun juga semakin tidak jelas. Bahkan ia malah mendapati gajinya dipotong oleh klub. Bosman lalu melaporkan hal itu ke Pengadilan Eropa.

Sejarah terjadi pada 15 Desember 1995. Bosman memenangi gugatannya. Pengadilan Eropa menilai tindakan yang dilakukan Liege bertentangan dengan Pakta Uni Eropa berkaitan dengan tenaga kerja. Sebuah aturan bernama Bosman Rulling pun lahir. Para pemain Uni Eropa yang kontraknya telah habis, boleh pergi dengan bebas. Klub barunya pun tidak perlu menyetor sejumlah uang pada klub lama.

Aturan Webster

Pionir kedua dalam sejarah pembaruan transfer adalah Andy Webster. Ia kesal kontraknya tak diperpanjang oleh klubnya, Heart of Midlothian, menjelang akhir musim 2005-2006. Webster mengungkapkan ingin pindah. Apalagi Wigan Athletic menunjukkan minat untuk memboyongnya.

Webster pun lalu mencoba memanfaatkan Aturan FIFA Pasal 17 terkait Regulasi untuk Status dan Transfer Pemain yang diperkenalkan pada 2004. Di dalamnya, terdapat kalimat yang menyebutkan jika pemain dikontrak sebelum berusia 28 tahun, bisa “membeli” sisa kontraknya pada klub setelah kontraknya berjalan selama tiga tahun. Sedangkan untuk pemain diatas 28 tahun, durasi kontrak yang dilalui cukup dua tahun.

Dua peraturan tersebut memang menjadi cikal bakal semakin “berkuasanya” para pemain terhadap klub. Ketika ingin hengkang dari klub, mereka bisa dengan mudahnya berontak dan akhirnya klub pun melepasnya. Klub pun kini lebih teliti dalam menentukan detail kontrak baru antara klub dan pemain.

Nasib Bosman dan Webster

Bisa dikatakan, Bosman dan Webster adalah para pahlawan bagi pemain-pemain saat ini. Banyak dari mereka yang mendapatkan manfaat besar, baik dari segi material maupun karier bermain, dari adanya Aturan Bosman dan Aturan Webster. Tapi itu ternyata tidak berlaku bagi kedua pionir tersebut.

Selepas dari Liege, Bosman hanya bermain bagi klub-klub kecil macam Olympique Saint-Quentin, CS Saint Dennis, dan bahkan ia pernah bermain bagi Reunion, klub semenjana yang berada di negara kecil di tengah-tengah Samudera Hindia. Tentu saja, penghasilan yang didapatnya sangat kecil.

Bosman kini hanya hidup sendirian di rumahnya yang berada di sebuah kota kecil di pinggiran Liege. Ia ditinggal oleh istri dan kedua anaknya yang khawatir tidak mendapatkan kehidupan yang layak andai masih bersama Bosman.

Sedangkan Webster mungkin bisa dikatakan masih lebih baik dari Bosman. Setelah bermain bagi Wigan selama dua musim, kini ia kembali bermain bagi Heart of Midlothian. Tapi sayang, ia hanya mejadi pemanis bangku cadangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda