Scroll to Top

Genosida Rohingya: Aparat Keamanan dan Pengamanan Swakarsa Ikut Bakar Rumah dan Membunuh Warga

By Ilham Choirul / Published on Sunday, 03 Sep 2017

Rohingnya

Penyerangan terhadap warga Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, beberapa hari ini dilakukan sangat brutal. Arakan Project selaku pemantau kasus Rohingya menyatakan, aparat keamanan Myanmar diduga memiliki peran besar dalam pengusiran warga Rohingya untuk keluat dari kediamannya.

Selain aparat keamanan, kelompok pengamanan swakarsa juga diduga terlibat aksi brutal selama proses pengusiran. Mereka melakukan pembakaran rumah di desa-desa yang menjadi huniaan warga Rohingya.

“Apa yang kami dengar adalah (orang-orang berteriak) ‘bakar, bakar, bakar’. Dan sepertinya (pembakaran) menyebar dari selatan ke utara,” kata Chris Lewa dari Arakan Project, seperti dikutip laman BBC dari Reuters,  Jumat lalu (01/09).

Menurut Lewa, aksi serangan tersebut cukup terencana. Pembakaran rumah warga tampak cukup sistematis. Akibat serangan ini, warga Rohingya akhirnya mengungsi dan mereka banyak yang tertahan di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh.

“Menurut saya sangat sistematis. Dari satu desa ke desa-desa yang lain. Kami juga mendengar orang-orang dibunuh ketika desa mereka diserang,” kata Lewa.

Salah seorang pengungsi Rohingya, Abdullah, menguatkan pendapat Lewa. Serangan aparat dan kelompok keamanan swakarsa membuat warga ketakutan. Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan keluarga lantaran saling terpisah atau pun telah dibunuh oleh penyerang.

“Sangat menakutkan … rumah-rumah dibakar, orang-orang berlarian meninggalkan rumah mereka, anak dan orang tua terpisah, beberapa di antaranya hilang, yang lainnya tewas,” kata Abdullah.

Dalam aksi penyerangan kepada warga Rohingya yang terakhir, setidaknya sudah ada korban meninggal sebanyak 130 orang di Desa Chut Pyin. Aparat keamanan dan kelompok pengamanan swakarsa membunuhnya, sementara tida sedikit yang meregang nyawa akibat ditembak. Bahkan, sekalipun warga menyelamatkan diri tanpa senjata pun ikut dihabisi.

“Informasi yang kami peroleh dari lapangan menyebutkan, setidaknya 130 tewas, sebagian besar akibat luka tembak. Angka ini kami dapatkan dari jumlah korban yang telah dikubur,” kata Lewa.

Sekurangnya hampir 40 ribu warga Rohingya menyelamatkan diri ke Bangladesh seminggu belakangan ini menurut laporan PBB.  Sementara itu militer Myanmar berkilah jika penyerangan kepada warga Muslim Rohingya dianggap sebagai “operasi membersihkan Rakhine dari unsur-unsur teroris”.

Komentar Anda