Scroll to Top

Rokok Elektrik Sama Bahayanya Memicu Kanker

By Ilham Choirul / Published on Monday, 04 Sep 2017

rokok elektrik lagi

Vape atau rokok elektrik memiliki risiko yang sama untuk memunculkan kanker di tubuh. Rokok elektrik bukanlah pengganti rokok tembakau, walaupun sebagian perokok menjadikannya sebagai jalan berhenti merokok. Mereka menganggap yang dihirup adalah uap air dan tidak ada nikotin di dalamnya.

Anggapan tersebut keliru. Sejumlah penelitian justru menemukan zat-zat dari vape yang tersedot ke dalam paru-paru menimbulkan kerugian. Dalam studi yang dilakukan Hellenic Cancer Society di Athena, Yunani, ditemukan adanya gejala peradangan pada paru-paru dari sejumlah sukarelawan yang berpartisipasi.

Studi ini melibatkan 50 perokok tembakau dan vape berusia sekitar 18-31 tahun. Ada 27 orang yang menderita asma ringan. Peneliti ingin melihat seberapa banyak kadar zat oksida nitrat (NO) yang dihembuskan dari paru-paru mereka.

Zat NO adalah molekul gas yang menjadi tanda adanya peradangan di organ pernapasan. Molekul ini diproduksi pada sel-sel di saluran pernapasan. Hasilnya cukup mencengangkan. Perokok vape memiliki kadar gas NO yang jauh lebih banyak ketimbang mereka yang tidak memakai vape. Temuan tersebut juga menunjukkan lebih parah pada sukarelawan yang punya asma.

 “Rokok elektronik segera merusak fungsi paru-paru, yang berlangsung selama kurang dari 30 menit setelah merokok,” kata penulis studi Dr Andreas Lappas dari Hellenic Cancer Society, seperti dikutip laman Intisari.

Orang yang menderita asma sebelumnya, punya efek buruk saat merokok vape hanya dalam jangka pendek ketimbang perokok yang tidak memiliki asma. Secara umum, adanya peradangan pada paru-paru tersebut di kemudian hari dapat memicu penyakit paru yang lebih serius termasuk kanker.

Sementara itu, studi lain juga mengungkap bahwa sel darah putih yang terkena paparan uap dari rokok elektrik ikut melepas senyawa pemicu peradangan. Uap dalam vape dimungkinkan turut mengandung berbagai jenis bahan kimia pemicu kanker seperti formalin, aldehida, acrolein, dietilen glikol, hingga nikel.

Komentar Anda