Scroll to Top

Hujan Meteor Orinoid Dapat Dipantau Sejak Tengah Malam Jumat 21 Oktober

By C Novita / Published on Friday, 20 Oct 2017

images.tempo.co

Peristiwa alam langka berupa hujan meteor Orinoid dapat disaksikan juga oleh masyarakat Indonesia sejak 21 Oktober atau Sabtu tengah malam hingga jelang subuh, sampai tanggal 22 Oktober atau Minggu dini hari.

Posisi lintasan hujan meteor tersebut adalah dari rasi bintang Orion atau dikenal juga sebagai rasi Si Pemburu. Biasanya rasi bintang ini akan terbit di langit Indonesia sekira pukul 21.00 WIB hingga dini hari. Anda bisa memantau saat posisi rasi sudah meninggi, sekira tengah malam di 30 derajat Timur Laut.

Beruntung, dari sisi pencahayaan para pengamat hujan meteor Orinoid tak akan terganggu oleh sinar bulan sebab masih memasuki fase bulan baru.

Namun terkadang gangguan malah datang dari kondisi cuaca yang bisa saja sedang berawan, atau juga dari cahaya lampu-lampu di perkotaan. Idealnya jika ingin menyaksikan dan mengabadikan peristiwa alam seperti hujan meteor maka Anda harus berada di wilayah yang gelap dan terbuka, semisal padang ilalang.

Hujan meteor orinoid pertama kali ditemukan oleh E.C. Herrick, antariksawan asal Connecticut, Amerika Serikat di tahun 1839.

Herrick pun meneliti kemunculan secara periodik hujan meteor itu, dan menyimpulkan bahwa waktunya adalah setiap tanggal 8-15 Oktober.

Namun ia lantas meralat dan menemukan bahwa meteor orinoid kemungkinan muncul pada tanggal 8-25 Oktober setiap tahunnya.

Hujan meteor dari rasi Orion ini termasuk yang aktivitasnya cukup tinggi dibanding hujan meteor lain. Jumlah yang bisa disaksikan oleh para pengamat adalah kurang lebih 40-70 lintasan per jam, dan berlangsung selama 2-3 hari.

Untuk tahun 2017 ini, puncak aktivitas hujan meteor Orinoid adalah di tanggal 21-22 malam hingga dini hari. Sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya juga sudah dapat dipantau sejumlah meteor yang melintas. Namun jumlahnya bisa kurang dari 15 lintasan per jamnya.

Meteor-meteor itu melaju dengan kecepatan 66 kilometer per detik, sehingga dari arah Bumi tampak seperti sedang terjadi hujan.

 

 

Komentar Anda