Scroll to Top

Sholat Khusus Rebo Wekasan Tidak Diperbolehkan Oleh Mbah Hasyim Asy’ari?

By C Novita / Published on Wednesday, 15 Nov 2017

rebo wekasan

Masalah sholat khusus untuk hari Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan (Rabu terakhir di bulan Safar) masih jadi bahan perdebatan di beberapa kalangan umat muslim. Ada yang pro dan taklid untuk menjalankannya, di satu sisi ada pula yang kontra serta melarang melaksanakannya.

Namun ada juga pihak yang tidak melarang dan tidak menganjurkan, dengan alasan tak ingin terjadi perpecahan di kalangan umat. Kalangan ini hanya berpesan untuk menempatkan niat dengan benar, karena setiap ibadah sejatinya hanya dilakukan untuk mendapatkan ridho Allah SWT saja. Karena itu harus dilakukan sesuai dengan contoh dari Rasulullah SAW.

Ulama yang menjalankan amalan sholat Rebo Wekasan umumnya berasal dari ulama yang mengamalkan tarekat, sebab sumber dari amalan tersebut adalah kitab-kitab yang terkait tarekat.

Nahdhatul Ulama (NU) sendiri menjadi wadah dari pelaku tarekat yang dikenal dengan Jamiyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), banyak anggotanya yang pro dengan amalan tersebut.

Dikutip dari laman duta.co, sebelum melakukan amalan Rebo Wekasan yang diniatkan untuk menolak bala’ atau bencana, sebaiknya dipahami makna dari tathayyur (merasa sial) tafaul (berharap kebaikan).

Apa itu tathayyur dan tafaul?

Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Abu Hurairah berkata: “Rasulullah senang dengan Tafaul (mengharap baik) dan tidak suka dengan tathayyur (merasa sial),” (HR Ahmad).

Serta;

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “Tidak ada kesialan. Sebaik-baik merasa sial adalah tafa’ul” Sahabat bertanya: “Apa Tafaul?” Nabi menjawab: “Yaitu kalimat yang baik yang didengar oleh kalian” (HR al-Bukhari).

Mengapa paham dahulu dengan konsep tathayyur dan tafaul? Karena umumnya pelaku sholat dan amalan Rebu Wekasan memiliki kepercayaan bahwa di Rabu akhir bulan Safar ada bala’ atau bencana dan kesialan sejumlah ribuan buah yang diturunkan Allah SWT ke dunia.

Karena itu dilakukanlah amalan semisal sholat empat rakaat dengan satu kali salam, atau shadaqoh yang diniatkan untuk terhindar dari bala’ tersebut.

Ahli hadis Syekh Abdurrauf al-Munawi melarang merasa sial di suatu hari tertentu. Ia berkata:

“Kesimpulannya. Menghindar dari hari Rabu dengan cara merasa sial dan meyakini prediksi peramal adalah haram, sangat terlarang. Sebab semua hari milik Allah. Tidak ada hari yang bisa mendatangkan petaka atau manfaat karena faktor harinya. Kalau bukan karena Dzat yang di atas, maka tidak apa-apa dan tidak dilarang” (Faidl al-Qadir 1/62).

Bahkan Hadlratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari sendiri tidak membenarkan pelaksanaan sholat dengan niat untuk Rebo Wekasan karena takut dengan bala’.

“Tidak boleh berfatwa dari kitab-kitab yang aneh. Anda telah mengetahui bahwa kutipan dari kitab Mujarrabat Dairabi dan Masail Sittin yang menganjurkan salat tersebut [Rebo Wekasan] bertentangan dengan kitab-kitab fikih, maka salatnya tidak sah, dan tidak boleh berfatwa dengannya” (Tanqih al-Fatwa al-Hamidiyah, NU Menjawab Problematika Umat, PWNU Jatim).

 

 

 

Komentar Anda