Scroll to Top

Pemain Asia di Premier League: Tak Semuanya Bersinar

By Wan Faizal / Published on Friday, 13 Jan 2012

Selama ini, pemahaman yang beredar adalah para pemain sepakbola asal Asia akan kesulitan jika bermain di tim-tim Eropa. Alasan utamanya adalah fisik para pemain Asia yang memang tidak terlalu tinggi untuk bisa bersaing dengan para pemain Eropa.

Kendati demikian , tak semua pemain asal Asia tersebut gagal. Beberapa malah sukses menjadi andalan tim masing-masing. Bahkan ada yang mampu merasakan gelar juara kompetisi lokal seperti yang dicapai oleh Hidetoshi Nakata kala membantu AS Roma meraih scudetto 2000-2001, atau Park Ji Sung bersama Manchester United.

Contoh lain? Lihat saja kiprah Makoto Hasebe (Jepang/Wolfsburg), Keisuke Honda (Jepang/CSKA Moscow), Javad Nekounam (Iran/Osasuna), dan masih banyak lagi.

Di Inggris, khususnya di Premier League, SidomiNews membagi para pemain asal Asia ke dalam empat tipe, yakni tipe yang sukses dan menjadi andalan klub, tipe yang sedang meretas jalan menuju kesuksesan, tipe yang “jalan di tempat”, dan tipe yang mendekati akhir masa kejayaannya di Premier League.

Tipe Pertama

Dari tipe pertama, ada beberapa nama seperti Park Ji Sung, Tim Cahill (Australia/Everton), Mark Schwarzer (Australia/Fulham), dan Ali Al Habsi (Oman/Wigan Athletic)

Keempatnya, kecuali Park, selalu menjadi andalan tim masing-masing kala mereka tidak mengalami cedera. Cahill misalnya. Sembilan musim bermukim di Goodison Park, namanya selalu menjadi andalan manajer David Moyes.

Kemampuan Cahill bermain di beberapa posisi menjadi keuntungan tersendiri baginya. Selain itu, meski hanya memiliki tinggi 178 cm, Cahill cukup jago dalam bola-bola udara.

Sementara Al Habsi dan Schwarzer adalah penjaga gawang nomor satu di Wigan ataupun Fulham. Al Habsi, meski baru menjalani musim kedua di Wigan, sudah mampu menggeser Chris Kirkland yang sebelumnya berstatus kiper utama The Latics.

Schwarzer? Lima musim sudah ia berada di Craven Cottage. Selama itu, kecuali musim pertamanya dan musim ini yang baru berjalan 20 pekan, Schwarzer selalu mencatat caps diatas 30 laga.

Bagaimana dengan Park? Harus diakui, Park masih kalah bersaing dengan para gelandang koleksi Sir Alex Ferguson. Namun, ketika dimainkan, Park selalu menunjukkan kontribusi maksimalnya. Tak heran, ia sangat disayang oleh fans Setan Merah.

Tipe Kedua

Tipe ini diisi oleh para pemain muda yang mulai menunjukkan sinarnya di Premier League. Ada tiga pemain yang layak menghuni tipe ini, yakni Chris Herd (Australia/Aston Villa), Lee Chung Yong (Korea Selatan/Bolton), dan Ji Dong Won (Korea Selatan/Sunderland).

Herd adalah pemain binaan Villa. Ia mulai mendapatkan kepercayaan untuk bermain di tim inti sejak musim lalu. Meski jumlah penampilannya musim ini masih berada di angka delapan, namun Herd menunjukkan potensi untuk menjadi andalan Villa di masa depan.

Sementara duo Korea Selatan memiliki cerita yang berbeda. Lee musim ini harus menerima nasib sial. Patah kaki yang dialaminya di awal musim membuat ia belum memainkan semenit pun pertandingan musim ini.

Hal ini tentu berbeda dengan dua musim sebelumnya dimana Lee mencatat 34 kali main di musim 2009-2010 dan 31 kali main semusim berikutnya.

Lain halnya dengan Ji. Pemain kelahiran 26 Mei 1991 itu memang belum diandalkan penuh oleh Sunderland. Namun sama seperti Park, Ji selalu memberikan yang terbaik akal diturunkan. Mau contoh? Gol di menit akhir bernilai tiga angka ke gawang Manchester City adalah salah satu buktinya.

Tipe Ketiga

Untuk tipe ketiga, ada empat nama yang menempatinya. Yakni duo Arsenal, Park Chu Young (Korea Selatan) dan Ryo Miyaichi (Jepang), Neil Etheridge (Filipina/Fulham), dan Brad Jones (Liverpool/Australia).

Musim ini Miyaichi dan Park memang sudah diprediksi akan kesulitan menembus skuad inti Arsenal. Mereka hanya diandalkan ketika Arsenal bermain di ajang yang tidak seketat Premier League atau Liga Champions.

Miyaichi yang didatangkan sejak musim lalu belum sekalipun mengemas caps bersama Robin van Persie dkk. Bahkan di pertengahan musim lalu, ia “disekolahkan” ke Feyenoord Rotterdam. Sementara Park yang didatangkan musim ini dari Monaco juga belum pernah dimainkan di Premier League.

Etheridge yang merupakan pemain dari Filipina juga sama saja. Dua musim berada di Fulham, ia kalah bersaing dengan Schwarzer dan David Stockdale. Jones? Masih ada nama Pepe Reina dan Alexander Doni yang lebih layak mengisi pos penjaga gawang The Reds.

Namun mengingat keempatnya masih berusia muda, tentu peluang mereka untuk terus berkembang masih besar. Bukan tidak mungkin, dengan kerja keras mereka akan menjadi andalan klub masing-masing kelak.

Tipe Keempat

Ada dua nama yang “pantas” mengisi tipe ini. Kebetulan keduanya bermain di Blackburn Rovers dan berasal dari Australia, yakni Ryan Nelsen dan Vince Grella.

Nelsen yang sempat dipercaya menjadi kapten Blackburn musim ini malah hanya bermain satu kali. Fakta tersebut tentu sangat kontras dengan pencapaiannya di tujuh musim sebelumnya.

Sementara Grella, memang akrab dengan bangku cadangan The Rovers. Empat musim kariernya di Blackburn, ia hanya mengemas 38 kali main.

Dan tentu saja faktor yang menyebabkan mereka mulai tenggelam adalah usia. Seperti diketahui, Nelsen saat ini memasuki usia 35 tahun, sementara Grella dua tahun lebih muda.

Well, semoga suatu saat ada pemain Indonesia yang bisa meretas karier cemerlang di English Premier League.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda