Scroll to Top

Wasit Diinjak dan Pemain Ditimpuk Botol, Profesionalisme PT LI Layak Dipertanyakan

By Fitra Firdaus / Published on Saturday, 14 Jan 2012

PT LI (PT Liga Indonesia) menggagas kompetisi versi mereka sendiri dengan dalih profesionalitas. Berulang kali pula kita mendengar di ANTV sebagai penyelenggaran ISL dan Divisi Utama, bahwa kompetisi yang digelar PT LI adalah yang terbaik. Namun, hingga saat ini jaminan profesionalitas tersebut masih berada di bibir semata, belum dipraktikkan di lapangan.

Pusam Mania

Sebagai contoh, kejadian di pertandingan Persib vs PSMS Senin 9 Januari 2012 lalu. Pendukung Persib mungkin akan protes karena wasit tidak memberikan penalti atas pelanggaran keras yang dilakukan oleh Sasa Zecevic, pemain PSMS. Kala itu, Airlangga Sucipto yang menerima umpan di kotak penalti, disambar oleh Zecevic. Tidak ada penalti dan kartu kuning untuk sang pemain asing.

Namun, ada satu kejadian memalukan kala Hariono, gelandang bertahan Persib menendang salah satu pemain PSMS dengan sengaja. Seharusnya, kartu merah diberikan oleh wasit kepadanya. Namun, apa boleh buat, cuma kartu kuning yang dilayangkan.

Ketegasan wasit sangat penting dalam liga yang mengklaim diri lebih profesional. Mengapa demikian? Kebiasaan wasit hanya mengeluarkan kartu kuning (bahkan cuma memberi peringatan) pada tindakan menendang pemain lawan, berakibat serius pada mental pemain Indonesia.

Mereka menganggap tindakan ini boleh dilakukan. Maka, ketika pemain kita berseragam timnas, akan sangat mudah melihat hujan kartu kuning atau merah oleh wasit internasional karena tindakan serupa, yang di ISL, tidak mendapatkan hukuman sepantasnya.

Kasus Hariono hanyalah satu dari sekian kasus di ISL. Wasit masih cenderung takut pada suporter tuan rumah yang konon siap menghajar pengadil lapangan seandainya tim kesayangan mereka tak mendapatkan kemenangan kandang.

Kasus konyol lain terjadi di pertandingan antara Persisam vs Pelita Jaya. Dalam laga yang disiarkan langsung ini, giliran Pusammania yang tidak dewasa. Ketika tim mereka tertinggal 1-4 dan ada tendangan sudut untuk kubu Pelita, beberapa oknum Pusammania melempari pemain Pelita dengan botol plastik. Lucunya, Pusammania malah menginginkan klubnya meninggalkan ISL jika wasit tidak adil.

“Kepimpinan wasit sangat buruk. Banyak keputusan keluar dari sosok pengadil di lapangan yang kontroversial, ini sangat buruk bagi citra ISL yang ingin menjadi liga profesional,” kata Ketua Pusamania, Tommy Ermanto Pasemah seperti dikutip tribunnews.

Hingga berita ini diturunkan, tidak ada sanksi yang dikeluarkan untuk suporter atas tindakan yang barangkali dianggap wajar saja di Indonesia. Lagi-lagi, ironis untuk sebuah liga yang berhasil menyedot perhatian massa.

Namun, barangkali tak ada kejadian yang separah hari Kamis lalu. Dalam pertandingan Divisi Utama yang digelar PT LI, seorang wasit diinjak para pemain. Laga terjadi antara Perssin Sinjai dan PSB Biak di Makassar. Perssin menang 2-1 berkat gol di menit terakhir.

Akibatnya, para pemain PSB geram dan mengeroyok wasit. Bahkan, seperti dilaporkan beritajatim.com, wasit sempat diinjak-injak sebelum diamankan polisi.

Lagi-lagi, PT LI seperti diam membisu dengan kejadian ini. Jika benar, mereka berniat menegakkan liga sepakbola yang profesional, tentu hal-hal di atas tak bisa ditoleransi. Jangan lupa, hingga detik ini tidak ada hukuman untuk para pemain Persija dan Sriwijaya FC yang berkelahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda