Scroll to Top

Makan Keong Sawah Tidak Buruk Kok, Ini Keunggulannya

By C Novita / Published on Thursday, 07 Dec 2017

keong sawah

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyarankan warga tanah air yang tak kuat membeli daging akibat harganya melonjak tinggi, bisa beralih mengonsumsi keong sawah saja. Pernyataan tersebut jelas menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat, ada yang pro namun lebih banyak lagi yang kontra.

Di sisi lain, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), Asih Setriarini Ir Msc mendukung pernyataan Mentan dan membeberkan manfaat keong sawah.

“Sebetulnya, daging enggak bagus. Kalau kita bandingkan dengan sumber protein lain, daging yang lemaknya paling tinggi. Jadi, saya pribadi, kalau beralih ke keong sawah justru bagus,” ungkap Asih seperti dilansir laman liputan6.com, Rabu (6/12/2017).

Keong sawah tidak memiliki kandungan lemak jenuh, sementara daging tinggi lemak jenuh. Alasan ini yang juga membuat keong sawah lebih baik dikonsumsi ketimbang daging.

Protein pada keong sawah juga tinggi, tak kalah dari daging sehingga menyantap makanan murah meriah ini tidak akan membuat Anda kurang protein.

Sebuah penelitian yang pernah ia baca hasilnya, dilakukan di Cianjur, keluarga miskin yang memberi makan anak-anak balita mereka lauk keong ternyata mempunyai gizi yang cukup baik.

“Keong sawah ini proteinnya bagus. Pada masa pertumbuhan seorang anak, yang mereka butuhkan adalah protein,” tandas Asih lagi.

“Makanya, saya enggak makan daging enggak papa. Bisa diganti dengan telur, ayam, atau keong sawah ini.”

Asih juga menambahkan, di Indonesia ada banyak makanan sumber protein yang bisa diperoleh dengan harga lebih murah. Misalnya saja ikan, jamur, tempe, tahu dan banyak lagi. Termasuk yang dianjurkan oleh Mentan, yakni keong sawah.

 

 

 

Komentar Anda