Scroll to Top

Jonghyun SHINee Tulis Surat Terakhir Sebelum Bunuh Diri, Isinya Mengiris Hati

By Tyas / Published on Tuesday, 19 Dec 2017

Jonghyun SHINee Meninggal

Kepergian Jonghyun SHINee yang begitu tiba – tiba menyeret banyak fans KPop menangis sejadi – jadinya. Mereka seolah tak percaya bagaimana mungkin seorang vokalis bersuara merdu merasa tidak bisa lagi hidup di dunia ini. Sebuah surat yang ditulis Jonghyun sebelum ia memutuskan untuk bunuh diri disampaikan oleh sahabatnya. Dalam surat itu, Jonghyun mencurahkan bagaimana ia merasa amat depresi dengan kehidupannya yang menurutnya tak dijalankannya dengan sempurna.

Surat itu diamanatkan Jonghyun pada sang sahabat. Ia meminta sahabatnya itu untuk mempublikasikan surat tersebut setelah ia pergi. Dan inilah isi suratnya yang membuat hati teriris – iris, dilansir Kapanlagi.

“Aku sudah hancur dari dalam. Depresi yang perlahan-lahan menguasaiku seluruhnya, dan aku tak bisa menang darinya.
Aku membenci diriku sendiri. Aku mencoba untuk bertahan dan meminta diriku untuk kuat, tapi tidak ada jawaban.
Jika aku tidak bisa membersihkan napasku, lebih baik berhenti sekalian.
Aku bertanya siapa yang akan menjagaku.
Hanya ada Aku.
Aku sendirian.
Mudah mengatakan untuk mengakhiri semuanya.
Sulit sebenarnya untuk mengakhirinya.
Aku selama ini hidup karena kesulitan yang kuhadapi.
Mereka mengatakan aku ingin kabur.
Benar memang. Aku ingin kabur.
Dari diriku.
Dari kamu.
Aku bertanya siapa. Ini Aku. Dan ini aku. Dan ini aku lagi.
Aku bertanya kenapa aku semakin kehilangan kenangan. Mereka menjawab karena itu kepribadianku. Baiklah. Jadi pada akhirnya semua ini salahku.
Aku ingin seseorang menyadari, tapi tidak ada. Tidak ada yang menemuiku, tentu saja mereka tidak tahu aku ada.
Aku bertanya kenapa orang hidup. Ya karena mereka hidup saja.
Kalau aku bertanya kenapa orang mati, kurasa mereka akan menjawab kalau itu karena lelah.
Aku menderita dan khawatir. Aku tidak pernah bisa mengubah jalanku menjadi kebahagiaan.
Sakit hanya ada perasaan sakit.
Mereka mengatakan agar aku tidak seperti itu.
Kenapa? Aku bahkan tidak bisa mengakhiri dengan cara yang kuinginkan?
Mereka mengatakan padaku untuk mencari tahu mengapa aku terluka.
Aku tahu benar kenapa. Aku terluka karena diriku. Semua salahku dan karena aku jahat.
Dokter, inikah yang ingin kamu dengar?
Ini semua bukan salahku.
Saat dokter menyalahkan kepribadianku dengan suara yang pelan, aku berpikir mudah sekali menjadi seorang dokter.
Luar biasa bagaimana aku terluka. Orang yang lebih terluka bisa hidup lebih baik. Orang yang lebih lemah juga hidup dengan baik. Kurasa tidak. Dari semua yang hidup, tidak ada seorang pun yang lebih terluka daripada aku dan tidak ada yang lebih lemah daripada aku.
Tapi mereka mengatakan aku harus tetap hidup.
Aku berkali-kali bertanya, tapi ini bukan untukku. Ini demi kamu.
Aku ingin semua ini demi aku.
Jangan katakan hal yang tak masuk akal.
Pikirkan lah kenapa aku terluka? Aku sudah mengatakan kenapa. Kenapa aku terluka. Tidak seharusnya terluka seperti ini karena hal tersebut? Apakah aku harus menyebutkan detail yang lebih dramatik?
Aku butuh cerita yang lebih lagi?
Ini bukan tempatku untuk memerangi dunia.
Ini bukan hidupku menjadi dikenal di dunia.
Mereka mengatakan kenapa aku semakin terluka. Karena aku menghadapi dunia, karena aku dikenal di dunia. Kenapa aku memilih ini? Itu lucu.
Ini keajaiban aku bisa bertahan hingga sekarang.
Apa yang bisa kukatakan lag? Katakan padaku aku telah bekerja keras.
Kalau aku sudah bisa bertahan dengan baik sampai sekarang. Kalau aku bekerja keras.
Bahkan jika kamu tidak bisa tersenyum merelakanku pergi, jangan salahkan aku.
Aku bekerja keras.
Aku benar-benar bekerja keras.
Selamat tinggal.”

Komentar Anda