Scroll to Top

Terlalu Sering Memuji Anak Bisa Berikan Dampak Negatif Ini

By C Novita / Published on Sunday, 09 Sep 2018

cara membuat anak pintar

Orangtua perlu memberikan pujian pada anak apabila mereka berprestasi dan pintar di bidang akademis. Namun perlu diketahui pula bahwa jangan memuji terlalu sering dan terang-terangan di depan anak karena bisa memberikan dampak negatif.

Dalam riset terbaru diungkap bahwa anak yang sering dipuji ‘pintar’, dirinya akan percaya bahwa ia sudah cerdas dan akan kurang memperhatikan pelajarannya lagi.

Ini berbeda jika anak diberi tahu bahwa kecerdasan bisa berubah dan tumbuh, sehingga mereka akan tetap mau belajar.

Anak yang sering dipuji juga akan percaya bahwa kecerdasan adalah bawaan (genetik), bukannya hal yang bisa diasah dan dipertajam. Hal itu berdampak buruk pada keinginannya untuk belajar. Riset tersebut telah dipublikasi dalam jurnal Developmental Cognitive Neuroscience.

Tim ilmuwan dari Michigan State University melakukan metode dengan pengamatan terhadap 123 orang anak berusia tujuh tahun. Usia ini adalah usia transisi dari anak rumahan ke anak sekolahan.

Riset dilakukan untuk menilai apakah anak mempunyai pemikiran yang berkembang, juga apakah anak percaya bahwa pintar itu didapat dari kerja keras atau sudah bawaan lahir.

Anak-anak ini diberi tugas mengakurasi komputer, sambil direkam akifitas otaknya. Catatan aktifitas otak ini melonjak saat anak menyadari jika mereka salah dalam melakukan tugas di komputer. Hal ini adalah tanda bahwa anak sedang berkonsentrasi penuh pada kesalahannya, lalu berusaha memperbaiki.

Anak dengan ‘mindset berkembang’ ini lebih mungkin mempunyai kemampuan respon otak yang cepat, ketimbang anak yang percaya mereka pintar saja tanpa mau berusaha mengerjakan tugasnya atau ‘mindset tetap’.

Anak yang memiliki ‘mindset tetap’ akan sulit mengakui dan menyadari kesalahan serta tidak mampu memperbaiki kesalahan.

Bagaimana bisa memperbaiki kesalahan jika mereka tak tahu bahwa mereka salah?

“Implikasi utamanya di sini adalah kita harus memperhatikan kesalahan kita dan menggunakannya sebagai peluang untuk belajar,” jelas Hans Schroder, pemimpin riset.

 

 

 

Komentar Anda